3

iseng-iseng saja.

CHDI : “Ayolah ramai-ramai memuji Presiden Donald Trump –saya tidak keberatan melakukannya asal dunia bisa damai.”

—> Emangnya Presiden Donald Trump bakalan memperhatikan puja-puji kita ?? Gé-ér amat Abah kita ini….. wkwkwkwkwk…..

CHDI : “Ya sudahlah. Kita sudah tahu Trump seperti itu. Melihat orang seperti Trump kadang saya memuji kredo arek Suroboyo: sing waras ngalah.”

—> ya….. itu….. “mengalah”…..

perundingan dagang dengan Amerika dengan tarif-tarif-an sesukanya Presiden Donald Trump….. mengalah….. manut…..

—> diminta ikut Board of Peace (Dewan Perdamaian Gaza) yang diinisiasi oleh Presiden Donald Trump….. mengalah….. ikut….. padahal, ketika Israel menyerang Palestina….. Amerika (Presidennya orang yang ini juga kan) justru mengirim persenjataan ke Israel ??

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

@pak Malahayati Ysh..

AKSARA JAWA, PESAN DUNIA

Pak Malahayati Arungbhumi, tulisannya indah. Bukan hanya karena aksara Jawa yang makin jarang dipakai, tapi karena isinya terasa “dalam tapi halus”. Seperti pitutur lama yang tidak berteriak, tapi justru mengena.

Saya menangkap satu benang merah: dunia ini terlalu ramai oleh yang ingin menang. Padahal yang dibutuhkan justru yang mau menahan diri. Dalam bahasa panjenengan: yang waras ngalah, supaya bumi tidak tambah gaduh.

Menariknya, Anda tidak sedang menggurui. Tapi mengingatkan. Bahwa di balik Hormuz, rudal, dan harga elpiji, ada sesuatu yang lebih sunyi: rasa. Dan itu sering hilang dari para penguasa.

Humornya mungkin begini: dunia ini seperti rapat panjang. Semua ingin bicara. Tidak ada yang mau merangkum. Akhirnya keputusan ditunda, tapi emosi sudah terlanjur naik.

Terima kasih sudah menulis dengan cara yang “tidak biasa”. Di tengah dunia yang serba cepat dan bising, aksara Jawa Anda seperti rem. Pelan. Tapi justru menyelamatkan.

Malahayati Arungbhumi

Wilwa

PERTABARA.

Saya punya usulan terobosan ke pemerintah agar kita mandiri dalam energi. Nasionalisasi semua tambang batubara. Dirikan PERTABARA. Lalu secara bertahap ganti elpiji dan mobil BBM dan sepeda motor BBM dengan kompor listrik, mobil listrik, sepeda motor listrik. Dengan listrik dari batubara. Masalahnya maukah dan sanggupkah? Karena yang akan dinasionalisasi itu milik oligarki, kapitalis, konglomerat, pemimpin parpol, yang kita semua tahu sama tahu siapa saja pemiliknya.