Catatan Dahlan Iskan

Tulung Agung

Bagikan
Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo terjaring OTT KPK, dengan total kekayaan tercatat Rp20,3 miliar.--Instagram gatutsunu
Bagikan

Ia jadi bupati karena bupati sebelumnya ditangkap disway.id/listtag/2264/kpk”>KPK. Kini setelah jadi bupati, dirinya sendiri yang ditangkap disway.id/listtag/2264/kpk”>KPK: Tulungangung, Jatim.

Maka Wakil Bupati Ahmad Baharudin kini dapat durian runtuh: menjabat bupati Tulungagung.

Sebenarnya sejak menjelang pilkada lalu Baharudin sudah mendapat rekomendasi dari partainya: untuk jadi calon bupati Tulungagung. Ia memang ketua Gerindra di kabupaten itu. Tapi ia merasa tidak mampu. Terutama soal pendanaan.

Baharudin memang pengusaha: konveksi pakaian. Tapi tidak cukup besar untuk jadi sumber dana pilkada. Ia juga anggota DPRD Tulungagung dari Gerindra tapi masih merasa tidak mampu membiayai pilkada.

Akhirnya Gerindra mencabut rekomendasi untuk Baharudin. Lalu menunjuk non kader sebagai calon bupati: Gatut Sunu. Ahmad Baharudin dijadikan calon wakilnya.

Gatut Sunu sendiri saat itu lagi limbung. Sebagai incumbent wakil bupati, ia ingin maju jadi nomor satu. Untuk itu Gatut ikut penjaringan calon bupati yang diadakan PDI-Perjuangan.

Gatut lolos. Sebagai incumbent wabup, elektabilitasnya memang tinggi. Gatut pun sudah bisa tenang. Ia bisa ikut pilkada melawan bupatinya sendiri.

Di politik ketenangan itu langka. Tiba-tiba rekomendasi PDI-Perjuangan diberikan kepada orang lain: Sumaryoto. Mungkin PDI-Perjuangan lebih yakin ke incumbent bupati daripada incumbent wakil bupati.

Di saat limbung itulah keluar akalnya: ia merayu Baharudin untuk bisa maju lewat Gerindra –biarpun rekomendasi Gerindra sudah diberikan ke Baharudin.

Rupanya Gatut berhasil merayu pemegang rekomendasi Gerindra itu. Gatut sanggup menanggung biaya pilkada. Baharudin tidak perlu keluar banyak uang masih pula bisa jadi wakil bupati.

Pasangan Gatut-Baharudin menang.

Di Tulungagung, Gatut dikenal penuh perhitungan. Terutama soal uang. Gatut tahu sulitnya cari uang. Toko bangunan miliknya memang maju tapi skalanya tetap toko di desa.

Di Tulungangung, Gatut dikenal sebagai orang yang ketat dalam hal keuangan. Itu sudah jadi omongan orang di warung-warung kopi. “Pak Gatut itu, kalau misalnya ada lomba berwudu, ia pasti juaranya,” ujar tokoh di kota Tulungagung. Maksudnya: air yang jatuh ke tangannya tidak sedikit pun yang bisa menetes ke bawah.

Rupanya Gatut menginginkan ini: bagaimana agar lebih banyak lagi air yang mancur ke tangannya. Ia menemukan akal. Jiwa kewirausahaannya ia bawa ke birokrasi. Ia ciptakan inovasi. Ide baru. Cara lain dari yang lain. Ia ciptakan sistem yang belum terjadi sebelumnya: semua pejabat baru yang ia angkat harus membuat pernyataan pengunduran diri. Tanpa tanggal. Pernyataan itu diserahkan kepada Gatut.

Kapan saja Gatut ingin memberhentikan pejabat itu, ia tinggal mengisi tanggal di surat pernyataan itu.

Dengan demikian semua pejabat baru sangat loyal kepada Gatut. Mereka takut tiba-tiba surat pernyataan itu bertanggal. KPK mengindikasikan cara itu sebagai jalan menuju korupsi.

Gatut pun ditangkap KPK. Baharudin jadi bupati. Tentu untuk jadi bupati definitif harus menunggu Gatut dijatuhi hukuman oleh pengadilan. Siapa tahu Gatut punya cara lain untuk bebas dari penjara.

Apa yang didapat Baharudin saat ini pernah didapat oleh Gatut.

Gatut pernah berjuang untuk jadi bupati 10 tahun lalu. Ia sudah keluar banyak uang. Tapi ia gagal dapat rekomendasi sebagai cabup maupun cawabup.

Rekomendasi PDI-Perjuangan jatuh kepada Maryoto dan pasangannya, Heru Suseno. Maryoto terpilih. Lalu ditangkap KPK. Heru Suseno pun naik dari wakil menjadi bupati.

Berarti posisi wakil bupati kosong. DPRD pun melakukan pemilihan. Dua calon bertarung di DPRD. Gatut terpilih lewat proses yang dramatis di DPRD.

Bayangkan sendiri: betapa mahal proses menjadi calon yang gagal, lalu proses pemilihan wabup di DPRD. Dan kemudian proses pilkada yang membuatnya terpilih menjadi bupati.

Tulungagung dulu terkenal karena punya terowongan Neyama. Kini Tulungagung terkenal sebagai sasaran KPK. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 15 April 2026: Bertahan Menyerang

IKFR RSUA

Sekarang, jangan harap bisa napas sampai aku bilang ‘peluit panjang’ bunyi.”

Dimas yang tadinya mau jadi striker, mendadak pasrah jadi kiper yang cuma bisa pasrah gawangnya dibobol berkali-kali. Ternyata, diserang balik jauh lebih melelahkan (dan menyenangkan) daripada menyerang duluan.

Besok paginya, Dimas bangun dengan pinggang encok. Dia baru sadar, kalau istrinya sudah pakai ilmu psikologi digabung taktik bola, dia cuma bisa pasrah menerima skor telak.

Siang harinya di kantin kantor, Dimas duduk lemas sambil memesan jamu pegal linu, bukannya es kopi seperti biasanya. Teman-temannya, sapa saja namanya Budi dan lwan, mulai curiga melihat gaya jalan Dimas yang mirip robot kekurangan oli.

“Kenapa lo, Dim? Jalan kayak habis ikut seleksi Kopassus?” tanya Budi sambil menyenggol lengannya.

Dimas menghela napas berat, “Bukan Kopassus, Bud. Tapi Liga Champions semalam. Gue coba pakai teori psikologi kalian, yang katanya ‘pertahanan terbaik adalah menyerang’.”

Iwan langsung antusias, “Wuih, manjur dong? Istri lo pasti langsung takluk?”

Dimas menggeleng lemah. “Masalahnya, istri gue ternyata penganut paham Total Football. Gue baru mau menyerang, dia sudah counter-attack pakai taktik Gegenpressing. Gue ditekan dari segala sisi sampai nggak bisa napas. Gawang gue dibobol habis-habisan.”

Budi dan Iwan tertawa terbahak-bahak.

IKFR RSUA

Satu minggu berlalu, “masa skorsing” Sari akhirnya selesai. Dimas sudah merasa di atas angin, siap melancarkan strategi serangan total yang sudah dia susun rapi di kepala.

Tapi, dia lupa satu hal: dalam psikologi, orang yang terlalu fokus menyerang sering kali lupa menjaga area belakang.

Malam itu, Dimas baru saja selesai mandi, merasa segar dan percaya diri. Dia berjalan ke kamar dengan gaya perlente, siap memberikan “serangan pembuka”. Namun, begitu membuka pintu, langkahnya terhenti.

Lampu kamar sudah redup. Sari tidak lagi memakai daster batik andalannya, melainkan lingerie hitam yang—menurut istilah Dimas—”sangat tidak sopan untuk kesehatan jantung”. Sari sedang duduk di tepi kasur sambil membaca buku, tapi tatapannya langsung mengunci Dimas.

“Mas, katanya pertahanan terbaik adalah menyerang, kan?” tanya Sari dengan suara rendah yang bikin lutut Dimas mendadak lemas.

Dimas menelan ludah. “I-iya, Sayang. Itu teorinya…”

“Bagus,” Sari menutup bukunya pelan. “Minggu lalu kamu gagal karena aku ‘kartu merah’. Sekarang, aku nggak mau nunggu kamu nyerang. Aku mau pakai taktik Total Football.”

Sebelum Dimas sempat bereaksi, Sari sudah menarik kerah kaosnya sampai Dimas jatuh ke kasur. Sari langsung mengambil posisi dominan, mengunci pergerakan Dimas.

“Lho, Sayang, kok… kok aku yang dipojokin?” bisik Dimas panik-panik senang.

Sari berbisik tepat di telinganya, “Dalam psikologi, ini namanya Counter-Attack. Kamu tadi masuk ke kamar tanpa pengawalan, jadi gawang kamu tbuka lebar

IKFR RSUA

Malam itu, pintu kamar baru saja dikunci. Dimas, si suami yang masih agak canggung, sedang duduk di pinggir kasur sambil memikirkan “strategi” pembukaan.

Dia ingat pesan teman-temannya: “Pokoknya, pertahanan terbaik adalah menyerang!”

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Dimas langsung melompat ke arah istrinya, Sari, yang lagi asyik pakai skincare. Dia langsung memeluk Sari dengan semangat 45, berharap serangan fajar—eh, serangan malam—ini bisa menutupi kegugupannya.

Sari kaget setengah mati sampai botol serumnya hampir terbang. “Mas! Kamu ngapain sih tiba-tiba nyeruduk kayak banteng?”

Dimas nyengir sok jago, “Ini namanya taktik psikologi, Sayang. Pertahanan terbaik adalah menyerang. Biar kamu nggak sempat protes kalau aku nanti… eh, kurang durasi.”

Sari tertawa geli sambil menaruh botol serumnya. Dia lalu berdiri, melipat tangan di dada, dan menatap Dimas dengan tatapan menantang.

“Oh, gitu? Oke, kalau kamu pakai ilmu sepak bola, aku pakai ilmu pertahanan gerendel alias Catenaccio,” kata Sari santai.

Dimas bingung. “Maksudnya?”

“Maksudnya…” Sari menarik selimut tebal sampai ke leher dan membungkus dirinya seperti kepompong. “Malam ini gawangnya ditutup rapat karena wasitnya (aku) lagi dapet ‘kartu merah’ alias datang bulan. Serangan kamu gagal total, Mas. Silakan coba lagi minggu depan!”

Dimas cuma bisa bengong di pinggir kasur. Ternyata sekuat apa pun serangannya, kalau gawangnya lagi direnovasi, tetep aja nggak bisa gol.

Achmad Faisol

saya pernah menghadapi dua orang dengan kebanggaan diri terlalu tinggi…

orang pertama saya puji… setelah itu dia melunak… saya simpulka dia butuh dipuji di depan teman kerja dan atasannya…

terhadap orang kedua saya lakukan hal yang sama… ternyata, dia malah lebih sombong, dengan terang-terangan bilang, “bapak butuh banyak belajar lagi…” padahal, usia kami mirip… alamaaaak…

ternyata, perlakuan itu berbeda tiap orang, ga bisa digeneralisasi…

kalau trump, menurut saya, ga usah ditanggapi, diam saja… trump seperti orang yang semangat saat lagi debat karena ada penonton… dia ga peduli benar atau salah… ketika semua penonton meninggalkan panggung debat, orang itu kehilangan energinya…

Taufik Hidayat

Judul artikel abah DI hari ini Bertahan Menyerang mengingatkan saya akan sebuah museum perang yang menarik di Minsk Belarus. Saya ingat mampir ke sana di akhir musim dingin di pertengahan Maret. Suhu masih membeku minus 16 derajat C. Dan saya sepeti kebiasaan orang proletar kemana mana naik metro lanjut bus dan jalan kaki di tepian sungai Svislach yang membeku. museum ini namanya keren . “Belarussian State Museum of the History of the Great Patriotic War”. Gedungnya megah dengan Kubah cantik. Di museum ini kita mengenal konsep bertahan dan meyerang. Bertahan sampai titik penghabisan ketika rakyat dan tentara bertahan terhadap serbuan Jerman dengan Benteng Brest dan parit parit yang ikonik. dan kemudian menyerang hingga

Ahmed Nurjubaedi

(Abah DI biasa menulis kalimat pendek. Tidak beranak cucu. Saya coba menulis satu kalimat yang puanjangggg) :

Menyikapi suasana geopolitik saat ini, saya usul agar Paguyuban Ilmu Kejawen, dengan didukung penuh oleh presiden-wapres Prabowo-Gibran dan seluruh anggota DPR, segera menjalin kerjasama dengan Harvard, Oxford, NUS, ANU, Tsinghua University, the University of Tokyo, Seoul National University, the University of Cape Town, King Fahd University, Lomonosov Moscow University, University of Teheran, Tel Aviv University, dan Jawaharlal Nehru University untuk menyelenggarakan short course Filsafat Jawa dimana kelas filsafat ini akan membahas secara mendalam 3 ajaran Jawa untuk menyebarkan kedamaian di muka bumi:

1. Nglurug tanpa bala. Meyerbu tanpa pasukan. Ksatria sejati tidak boleh menimbulkan banyak kerusakan atau kematian. Kalau ngajak perang, ya 1 on 1 antar pemimpin.

2. Menang tanpa ngasorake. Menang tanpa mempermalukan. Kalau sudah menang tak perlu menepuk dada. Bilang saja ke lawan: wah, panjenengan sae saestu, berkenan mengalah sama saya.

3. Nah, ini puncak kebijaksanaan, begitu parakdoksal: wani ngalah. Berani mengalah. Yang wajar itu ya berani menyerang. Apalagi punya kemampuan lebih hebat. Eh, ini berani mengalah, padahal sudah pasti bisa menang.

Jika seluruh pemimpin dunia menerapkan 3 ajaran tersebut, maka dunia akan damai sentosa.

Bagaimana pendapat Abah?

Wilwa

@Sigit. Saya tak setuju perang dikaitkan dengan Tuhan Maha Kuasa. Justru itu menunjukkan ketidakmahakuasaan karena membiarkan homo sapiens saling bunuh. Minimal begitu opini Epicurus/Epikuros. Itu berlawanan dengan sifat Maha Kasih yang justru akan berusaha dengan segala kekuasaannya untuk mencegah terjadinya perang. Tapi kemudian muncul konsep ujian. Testing. Lha nyawa homo sapiens kok jadi “kelinci” percobaan. Karena itulah Epikuros berpendapat tak ada tuhan semacam itu. Itu hanya khayalan / imajinasi homo sapiens tertentu saja. Tak semua homo sapiens mengkaitkan perang dengan tuhan atau agama. Penjelasan yang lebih masuk akal, menurut saya pribadi, adalah hukum sebab akibat yang menyebabkan perang atau kebencian dan/atau keserakahan homo sapiens itu sendiri yang menyebabkan perang. Tuhan kalaupun ada, tak menganjurkan atau memprovokasi perang. Yang menganjurkan dan memprovokasi perang justru bukan Tuhan alias yang “jahat” yang Anda sudah tahu sebutannya. Sayangnya, anjuran yang jahat itu menyusup ke dalam kitab-kitab yang dianggap “suci” oleh sebagian (besar?) homo sapiens. Di situ ironinya menurut saya pribadi. Karena itulah saya beropini bahwa semua kitab suci itu bikinan homo sapiens itu sendiri. Bukan turun dari langit atau dari so-called “Tuhan”. Homo sapiens yang waktu menulis kitab itu dilanda kebencian dan/atau keserakahan. Minimal begitu kalau kita terinspirasi filosofi Buddha mengenai penyebab penderitaan. Penyebab perang. Penyebab segala kekerasan dan kejahatan.

Bahtiar HS

Tulis Abah, kalau berhadapan dengan Trump, sing waras ngalah. Kredo itu harus diingat juga oleh para suami.

Lek nurut saya nggak semudah itu, Abah Ferguso. Coba aja pas lagi “perang” brantayuda sama istri, lalu para suami bilang, “Wis lah sing waras ngalah!” Itu bukan menjadikan perangnya langsung selesai. Ceasefire. Genjatan senjata. Belum tentu. Justru malah bisa berlanjut lebih seru.

“Apa? Sing waras ngalah? Sangkakna sampean aku gendheng ngono ta?”

Gak hanya gagal paham. Bisa-bisa salah paham. :))

Sebaiknya dibalik saja. Mungkin efeknya malah positif. Apa itu? Katakan: “ya wis lah sing gendheng ngalah!” Mungkin dia akan berpikir sebentar, maksudnya apa suaminyi bilang gitu. Lalu ketika sadar, alih2 kata-kata yg keluar dari mulutnyi, paling2 senyum2 merajuk menyadari yg sebenarnya gendheng itu siapa. Hehehe…

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

@pak Warok..

KATA “DISEM0NI”

DAN “MENCEP”..

Menarik, Pak Warok. Dua kata itu seperti menyimpan filsafat komunikasi orang Jawa.

“Disemoni” bukan sekadar menyindir.

Ia cara menjaga rasa.

Kritik disampaikan, tapi dibungkus halus.

1) Ada empati di situ.

2) Ada keinginan agar pesan sampai tanpa melukai.

“Mencep” lebih subtil lagi.

Senyum tipis.

Tidak meledak.

Tapi mengandung makna.

1) Bisa setuju.

2) Bisa juga sindiran kecil.

Di situ ada kecerdasan membaca situasi. Tidak semua harus diucapkan keras.

Dalam budaya Jawa, ini bukan kelemahan. Justru kekuatan. Bahasa jadi alat merawat harmoni.

Konflik tidak dihindari, tapi dikelola.

Orang paham tanpa harus dipermalukan.

Bandingkan dengan gaya komunikasi langsung.

Kadang efektif.

Tapi sering juga meninggalkan luka.

Di titik ini, “disemoni” dan “mencep” terasa relevan.

Di era gaduh, cara halus justru bisa lebih tajam.

Jadi, dua kata itu bukan sekadar kosakata.

Ia cermin peradaban.

Mengingatkan bahwa bicara itu bukan hanya soal benar atau salah.

Tapi juga soal rasa.

Warok Ponorogo

Ijin bah. Sesama wong pawitandirogo, Jawa Timur daerah mataraman mau menerjemahkan kata kata Jawa yang abah belum ketemu padanan sewaktu menulis CHD hari ini.

Disemoni(kata sifat) = disindir halus pakai kata atau bahasa tubuh, biar yang disindir tidak tersinggung.

Mencep (kata dasar) = senyum tertahan bersifat ejekan halus.

Kalau untuk Putus “Donal Trump” kata arek Suroboyo sifatnya “Raine rai Gedek (mukanya muka dinding dari anyaman bambu)” tidak punya malu sama sekali. Jiti Jibeh, mati satu mati kabeh, tidak ada beban untuk mengorbankan nyawa manusia untuk kesombongannya. Yok opo, “disantet saja sama ilmu santet Nusantara dipadukan dengan ilmu santet “vodoo” benua Afrika.

andi setiawan

Semangat baku hantam untuk merebut tanah orang sepertinya memang sudah mendarah daging semenjak Yahudi pelarian bernama Columbus “menemukan” Amerika..Pembantaian suku Indian asli oleh bangsa pendatang “kulit putih” bapak moyang orang Amerika menjadi sejarah kelam yang tidak mungkin bisa dihapus dan itu hanya demi mengeruk emas, batubara,minyak bumi dll. 1 film paling menarik yang menggambarkan sejarah awal amerika yang rungkad adalah Geronimo : an American Legend. Geronimo menunjukkan sebuah strategi klasik untuk bertahan hidup memang adalah dengan menyerang meskipun akhirnya pun tumbang karena dipaksa menyerah.. tapi trump unik, dia lebih banyak menyerang untuk bertahan pakai mulut dibanding presiden2 amerika sebelumnya..klo orang jawa bilang CRIGIS

Liáng – βιολί ζήτα

iseng-iseng saja.

“Presiden Amerika Serikat yang sekarang ini terlalu sibuk melakukan Mekanisme Pertahanan Diri yang belum pernah dilakukan oleh Presiden-Presiden sebelumnya”.

Seandainya….. Sigmund Freud (1856 – 1939) dan puteri bungsunya Anna Freud (1895 – 1982) yang memperkenalkan Teori Mekanisme Pertahanan Diri, masih hidup….. mungkin mereka akan geleng-geleng kepala…..

Dan….. mungkin bergumam : Donald Trump itu semacam “anomali dari anomali”….. lha koq jadi nyerémpét Italian Brainrot….. wkwkwkwkwk…..

Muh Nursalim

Tapi ada hadis. Sombonglah kepada orang sombong. Itu yg dipakai Iran saat ini. Ndelalah punya menlu top markotop. Setiap ucapannya menjadi mantra. Nendang si sombong Trump dg job job yg mematikan. Sampai marah nya sang raja ke ubun ubun. Dan itu yg dimaui iran. Muutuu bi ghoidhikum. matilah dg kemurkaanmu.

3

iseng-iseng saja.

CHDI : “Ayolah ramai-ramai memuji Presiden Donald Trump –saya tidak keberatan melakukannya asal dunia bisa damai.”

—> Emangnya Presiden Donald Trump bakalan memperhatikan puja-puji kita ?? Gé-ér amat Abah kita ini….. wkwkwkwkwk…..

CHDI : “Ya sudahlah. Kita sudah tahu Trump seperti itu. Melihat orang seperti Trump kadang saya memuji kredo arek Suroboyo: sing waras ngalah.”

—> ya….. itu….. “mengalah”…..

perundingan dagang dengan Amerika dengan tarif-tarif-an sesukanya Presiden Donald Trump….. mengalah….. manut…..

—> diminta ikut Board of Peace (Dewan Perdamaian Gaza) yang diinisiasi oleh Presiden Donald Trump….. mengalah….. ikut….. padahal, ketika Israel menyerang Palestina….. Amerika (Presidennya orang yang ini juga kan) justru mengirim persenjataan ke Israel ??

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

@pak Malahayati Ysh..

AKSARA JAWA, PESAN DUNIA

Pak Malahayati Arungbhumi, tulisannya indah. Bukan hanya karena aksara Jawa yang makin jarang dipakai, tapi karena isinya terasa “dalam tapi halus”. Seperti pitutur lama yang tidak berteriak, tapi justru mengena.

Saya menangkap satu benang merah: dunia ini terlalu ramai oleh yang ingin menang. Padahal yang dibutuhkan justru yang mau menahan diri. Dalam bahasa panjenengan: yang waras ngalah, supaya bumi tidak tambah gaduh.

Menariknya, Anda tidak sedang menggurui. Tapi mengingatkan. Bahwa di balik Hormuz, rudal, dan harga elpiji, ada sesuatu yang lebih sunyi: rasa. Dan itu sering hilang dari para penguasa.

Humornya mungkin begini: dunia ini seperti rapat panjang. Semua ingin bicara. Tidak ada yang mau merangkum. Akhirnya keputusan ditunda, tapi emosi sudah terlanjur naik.

Terima kasih sudah menulis dengan cara yang “tidak biasa”. Di tengah dunia yang serba cepat dan bising, aksara Jawa Anda seperti rem. Pelan. Tapi justru menyelamatkan.

Malahayati Arungbhumi

Wilwa

PERTABARA.

Saya punya usulan terobosan ke pemerintah agar kita mandiri dalam energi. Nasionalisasi semua tambang batubara. Dirikan PERTABARA. Lalu secara bertahap ganti elpiji dan mobil BBM dan sepeda motor BBM dengan kompor listrik, mobil listrik, sepeda motor listrik. Dengan listrik dari batubara. Masalahnya maukah dan sanggupkah? Karena yang akan dinasionalisasi itu milik oligarki, kapitalis, konglomerat, pemimpin parpol, yang kita semua tahu sama tahu siapa saja pemiliknya.

Laksana DedeS

Menyerang untuk bertahan: kalau ada yang mengkritik teriaki saja: heii antek-antek asing.. ada yang mengkritik MBG beri cap saja: tak pernah merasakan miskin. Bila kritiknya cerdas, sebut saja; implasi pengamat, bukan ahlinya..

Mirip karakternya, sama keras kepalanya. Hanya beda levelnya..

Fauzan Samsuri

Pertahanan terbaik adalah menyerang dan serangan terbaik adalah yang tak lupa pertahanan

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

@pak Wilwa..

IRAN DAN ILUSI KEKEBALAN SEJARAH..

Komentar Pak Wilwa menarik. Ada pola besar yang terlihat.

Penaklukan Persia oleh Aleksander Agung, lalu Perang Romawi–Persia, berlanjut ke Penaklukan Muslim atas Persia, hingga Invasi Mongol ke Persia.

Iran tampak seperti selalu “ditaklukkan”, tapi tidak pernah benar-benar hilang.

Namun sejarah tidak sesederhana garis lurus.

Yunani runtuh bukan karena Iran.

Romawi juga.

Faktor internal sering lebih menentukan.

Begitu pula Kekhalifahan Abbasiyah, yang justru banyak dipengaruhi elite Persia, bukan semata “dikendalikan”.

Mongol memang berubah.

Tapi itu proses adaptasi kekuasaan, bukan kekalahan Iran.

Sementara Inggris dan Uni Soviet tidak runtuh karena Iran, melainkan dinamika global yang lebih luas.

Iran punya daya lentur budaya. Itu fakta.

Ia menyerap, lalu memengaruhi balik.

Tapi menyebut semua penyerang akhirnya “runtuh karena Iran” adalah penyederhanaan.

Prediksi tentang Amerika Serikat juga perlu hati-hati.

Sejarah memberi pola, bukan kepastian.

Yang sering menjatuhkan imperium justru bukan musuh di luar, melainkan karena retak di “dalam”.

Wilwa

Yunani serang Iran awalnya menang akhirnya runtuh. Romawi serang Iran, awalnya menang akhirnya runtuh. Arab serang Iran, awalnya menang akhirnya runtuh dalam arti agamanya diserap/dimutasi dan politiknya/birokrasinya dikuasai semasa Abbasiyah. Mongolia serang Iran, awalnya menang akhirnya runtuh dalam arti khan nya diislamkan dan sukunya diserap. Inggris dan Soviet juga begitu. Dan kini Amerika diprediksi jadi korban berikutnya.

Wilwa

Yunani serang Iran walau menang akhirnya runtuh. Arab/Islam serang Iran walau awalnya menang akhirnya diserap agamanya lalu dikuasai politiknya semasa Abbasiyah. Mongolia serang Iran juga sama akhirnya takluk bahkan diislamkan. Kini Amerika coba serang Amerika. Hmmmm. Menarik analysis nya.

Er Gham 2

Ada kawan dekat. Dia daftar haji dengan suami. Dapat nomor antri tahun 2020. Awalnya diproyeksikan 14 tahun lagi berangkat. Tahun 2026 ini sudah 6 tahun, jadi tinggal menunggu sekitar 8 tahun lagi.

Setelah ada ketentuan baru —bahwa semua antrian disamakan 26 tahun — maka dia dan suaminya harus menunggu lagi 20 tahun. Semakin lama. Usia juga semakin lanjut saat itu.

Dana yang telah bertahun tahun disetorkan oleh jutaan calon haji seyogyanya akan menghasilkan bagi hasil — jika dikelola atau diinvestasikan dengan baik. Bagi hasil ini tidak masuk ke rekening masing masing calon jemaah. Namun digunakan untuk subsidi biaya haji bagi calon haji yang berangkat tahun tersebut. Supaya biaya onh nya tidak terlalu besar.

Apakah berarti ada ‘amal sedekah’ juga dari para calon haji yang bertahun tahun sabar antri, karena telah mensubsidi yang berangkat.

Sekarang tidak ada kenaikan biaya onh, walau harga avtur dan biaya lain naik. Pemerintah yang subsidi katanya.

Berarti dari APBN? Berarti dari pajak atau utang? Berarti ada sedekah dari semua pembayar pajak?

Bahtiar HS

Beberapa hari ini sy lihat ada beberapa kalimat yg tampak semrawut rusak karena ada sisipan kode nggak jelas. Itu adalah kode HTML untuk menandai link (tautan) shg kata yg ditandai tautan berwarna lain dan jika diklik akan jump/lompat ke halaman yg disebutkan.

Kode itu mestinya diedit pd mode HTML. Dg melengkapinya krn kurang shg mestinya tautan “Iran” di CHD ini ditulis HTML nya Iran

Nulisnya itu pas mode HTML secara manual. Atau mode rich text dg memblok kata Iran, klik tombol insert link atau semisal itu dan ketikkan linknya. Nanti kode HTML digenerate otomatis.

Sebelum publish, biasanya ada menu Preview tampilan shg msh bs final check adakah kejanggalan macam itu. Yg ini bs ditugaskan ke editor.

Tp nek wis dikejar tenggat, main copas dan edit2 dikit2 publish. Pokoke tampil dhisik. Nanti kalau ada kurang2nya kan para perusuh akan teriak2. Min.. Mimin… Maka mbak Mimin tinggal edit dan republish.

Tp ya ketok gak professional gitu aja. :))

Salah satu penulis yg zero error saat menulis naskah (novel) nya setahu saya: mbak Dee Lestari Bandung. Top markotop! Abah kalah soal ini. Maaf Bah.

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

BUKU METODE JAKARTA,

CERITA TENTANG APA?

Di CHDI hari ini ada komentar pilihan tulisan bu Guru Ima yang mengutip dialog antara Obama dan ayah tirinya dari buku The Jakarta Method.

Buku karya Vincent Bevins itu isinya menggambarkan pola Indonesia 1965 yang dijadikan model oleh AS.

Setelah Gerakan 30 September 1965, terjadi pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dituduh terkait komunis.

Skala korban besar. Angkanya masih diperdebatkan, tapi jelas ratusan ribu.

Bevins menunjukkan, konteksnya adalah Perang Dingin.

Amerika Serikat dan sekutunya melihat Indonesia sebagai medan penting. Ada dukungan politik, intelijen, dan informasi kepada pihak anti-komunis.

Namun detail keterlibatan langsung tetap jadi perdebatan di kalangan sejarawan.

Istilah “Jakarta” kemudian muncul sebagai simbol.

Di Brasil, Chili, hingga Guatemala, pola penumpasan kiri sering merujuk—secara eksplisit maupun implisit—pada “model Indonesia” itu.

Tidak selalu identik, tapi inspirasinya terasa.

Kekuatan buku ini ada pada kombinasi arsip dan kisah manusia.

Ia tidak berlebihan, tapi juga tidak menutup luka. Kesimpulannya tenang, tapi mengganggu. Dunia pasca-Perang Dingin, kata Bevins, tidak netral.

Ia dibentuk oleh kemenangan satu kubu, dengan ongkos kemanusiaan yang panjang bayangan traumanya..

Johannes Kitono

Adiksi Kuasa.

Ini adalah penyakit yang sedang diderita Donald Trump. Siapapun di serangnya untuk menunjukkan Kekuasaannya. Paus Leo XIV, Pemimpin tertinggi umat Katholik juga dimusuhinya. Menuduh bahwa Paus kelahiran Chicago itu setuju bahwa Iran memiliki bom Nuklir. Dan para politisi pendukungnya mengatakan bahwa Perang yang dilakukan terhadap Iran adalah Perang Suci. Tentu itu bertentangan dengan Vatikan yang selalu menyerukan Perdamaian didunia. Dengan tegas Paus Leo mengatakan : Saya Tidak Takut pada pemerintahan Trump. Dengan senyuman yang khas beliau mengatakan. Bahwa Tuhan tidak akan mendengarkan doa dari orang yang tangannya penuh dengan darah. Tentunya maksudnya Donald Trump. Kejatuhan Donald Trump tinggal menghitung hari. Now 55 % penganut agama Katholik yang dulu memilihnya pasti kecewa. Ada jalan bagi Donald Trump untuk menghindari kost di penjara. Harus segera masuk ke Lembaga Rehabilitasi untuk mengobati Adiksi Kuasanya. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Bertahan Menyerang

Ayolah ramai-ramai memuji Presiden Donald Trump –saya tidak keberatan melakukannya asal dunia...

Catatan Dahlan Iskan

Cari Muka

Oleh: Dahlan Iskan “Papa saya masih aktif mengajar,” ujar Ina Silas. Saya...

Catatan Dahlan Iskan

Jalan Baru

Di Amerika sendiri banyak yang berdoa agar perundingan Amerika-Iran itu gagal total....

Catatan Dahlan Iskan

Hotel Syiah

Oleh: Dahlan Iskan Jangan kaget: hotel mewah bintang lima yang dipakai tempat...