2. Menang tanpa ngasorake. Menang tanpa mempermalukan. Kalau sudah menang tak perlu menepuk dada. Bilang saja ke lawan: wah, panjenengan sae saestu, berkenan mengalah sama saya.
3. Nah, ini puncak kebijaksanaan, begitu parakdoksal: wani ngalah. Berani mengalah. Yang wajar itu ya berani menyerang. Apalagi punya kemampuan lebih hebat. Eh, ini berani mengalah, padahal sudah pasti bisa menang.
Jika seluruh pemimpin dunia menerapkan 3 ajaran tersebut, maka dunia akan damai sentosa.
Bagaimana pendapat Abah?
Wilwa
@Sigit. Saya tak setuju perang dikaitkan dengan Tuhan Maha Kuasa. Justru itu menunjukkan ketidakmahakuasaan karena membiarkan homo sapiens saling bunuh. Minimal begitu opini Epicurus/Epikuros. Itu berlawanan dengan sifat Maha Kasih yang justru akan berusaha dengan segala kekuasaannya untuk mencegah terjadinya perang. Tapi kemudian muncul konsep ujian. Testing. Lha nyawa homo sapiens kok jadi “kelinci” percobaan. Karena itulah Epikuros berpendapat tak ada tuhan semacam itu. Itu hanya khayalan / imajinasi homo sapiens tertentu saja. Tak semua homo sapiens mengkaitkan perang dengan tuhan atau agama. Penjelasan yang lebih masuk akal, menurut saya pribadi, adalah hukum sebab akibat yang menyebabkan perang atau kebencian dan/atau keserakahan homo sapiens itu sendiri yang menyebabkan perang. Tuhan kalaupun ada, tak menganjurkan atau memprovokasi perang. Yang menganjurkan dan memprovokasi perang justru bukan Tuhan alias yang “jahat” yang Anda sudah tahu sebutannya. Sayangnya, anjuran yang jahat itu menyusup ke dalam kitab-kitab yang dianggap “suci” oleh sebagian (besar?) homo sapiens. Di situ ironinya menurut saya pribadi. Karena itulah saya beropini bahwa semua kitab suci itu bikinan homo sapiens itu sendiri. Bukan turun dari langit atau dari so-called “Tuhan”. Homo sapiens yang waktu menulis kitab itu dilanda kebencian dan/atau keserakahan. Minimal begitu kalau kita terinspirasi filosofi Buddha mengenai penyebab penderitaan. Penyebab perang. Penyebab segala kekerasan dan kejahatan.