Besok paginya, Dimas bangun dengan pinggang encok. Dia baru sadar, kalau istrinya sudah pakai ilmu psikologi digabung taktik bola, dia cuma bisa pasrah menerima skor telak.
Siang harinya di kantin kantor, Dimas duduk lemas sambil memesan jamu pegal linu, bukannya es kopi seperti biasanya. Teman-temannya, sapa saja namanya Budi dan lwan, mulai curiga melihat gaya jalan Dimas yang mirip robot kekurangan oli.
“Kenapa lo, Dim? Jalan kayak habis ikut seleksi Kopassus?” tanya Budi sambil menyenggol lengannya.
Dimas menghela napas berat, “Bukan Kopassus, Bud. Tapi Liga Champions semalam. Gue coba pakai teori psikologi kalian, yang katanya ‘pertahanan terbaik adalah menyerang’.”
Iwan langsung antusias, “Wuih, manjur dong? Istri lo pasti langsung takluk?”
Dimas menggeleng lemah. “Masalahnya, istri gue ternyata penganut paham Total Football. Gue baru mau menyerang, dia sudah counter-attack pakai taktik Gegenpressing. Gue ditekan dari segala sisi sampai nggak bisa napas. Gawang gue dibobol habis-habisan.”
Budi dan Iwan tertawa terbahak-bahak.
IKFR RSUA
Satu minggu berlalu, “masa skorsing” Sari akhirnya selesai. Dimas sudah merasa di atas angin, siap melancarkan strategi serangan total yang sudah dia susun rapi di kepala.
Tapi, dia lupa satu hal: dalam psikologi, orang yang terlalu fokus menyerang sering kali lupa menjaga area belakang.
Malam itu, Dimas baru saja selesai mandi, merasa segar dan percaya diri. Dia berjalan ke kamar dengan gaya perlente, siap memberikan “serangan pembuka”. Namun, begitu membuka pintu, langkahnya terhenti.
Lampu kamar sudah redup. Sari tidak lagi memakai daster batik andalannya, melainkan lingerie hitam yang—menurut istilah Dimas—”sangat tidak sopan untuk kesehatan jantung”. Sari sedang duduk di tepi kasur sambil membaca buku, tapi tatapannya langsung mengunci Dimas.
“Mas, katanya pertahanan terbaik adalah menyerang, kan?” tanya Sari dengan suara rendah yang bikin lutut Dimas mendadak lemas.
Dimas menelan ludah. “I-iya, Sayang. Itu teorinya…”
“Bagus,” Sari menutup bukunya pelan. “Minggu lalu kamu gagal karena aku ‘kartu merah’. Sekarang, aku nggak mau nunggu kamu nyerang. Aku mau pakai taktik Total Football.”