Oleh: Dahlan Iskan
Harga sawit di tingkat petani sudah membaik banyak. Sudah hampir mendekati harga normal sebelum gonjang-ganjing kewajiban ekspor lewat Danantara.
Di Riau petani sawit kemarin sudah dapat harga Rp3.050. Memang belum kembali ke Rp3.200, tapi sudah jauh dari kemerosotan yang sampai Rp2.160. Di Kaltim juga sudah membaik. Sudah kembali ke atas Rp3000, dari tinggal Rp2.200/kg.
Kelihatannya tahap “marah” dan “menolak” pada pemerintah sudah lewat. Sudah memasuki tahap “pasrah dan bisa menerima” –meski dengan hati yang mendongkol. Tidak ada lagi mimpi-mimpi harapan siapa tahu peraturan akan dibatalkan. Atau diperbaiki.
“Hari ini kami sudah menerima peraturan menteri perdagangan,” ujar seorang pengusaha. Ia pun kirim copy Permendag itu. Saya lihat tanggalnya: 29 Mei 2026. Panjang sekali.
“Hari ini kami ekspor seperti biasanya. Hanya ada tambahan pekerjaan melaporkannya ke bea cukai,” ujar pengusaha itu.
Lapornya pakai sistem online. Tidak sulit. Tidak perlu lapor secara khusus ke Danantara Sumberdaya Indonesia –anak perusahaan Danantara yang dibentuk khusus sebagai eksporter tunggal hasil sumber daya alam. PT DSI sendiri yang akan ambil laporan itu dari bea cukai.
Sudah tujuh hari ekspor sawit berjalan dengan aturan baru. Yang dimaksud sawit adalah lima jenis produk turunan dari sawit: CPO, RBDPO, RBDPL, UCO, dan residunya. Anda sudah tahu singkatan apa saja semua itu.
Memang mereka belum tenang sebenar-benar tenang. Enam bulan lagi aturan yang sebenarnya mulai berlaku: semua ekspor harus lewat PT DSI. Seperti apa wujudnya masih banyak yang meraba-raba. Khususnya dalam menafsirkan pasal 3 ayat 4 Peraturan Pemerintah yang jadi sandaran Permendag itu. Di situ disebutkan “DSI dapat menentukan margin yang wajar sesuai dengan peraturan perundangan”. Artinya perusahaan sawit akan diberikan laba yang wajar.
Di situ ada dua kata yang multitafsir. Pertama kata “dapat”. Kedua kata “wajar”. Berarti PT DSI akan menjatah sebuah perusahaan sawit boleh laba berapa. Ini akan menjadi bagian paling rumit dalam pelaksanaannya nanti.