Berapa laba yang wajar itu? Wajar menurut siapa?
Hari ini saya hanya ingin membantu agar kata “wajar” itu tidak terlalu abstrak. Laba adalah hasil penjualan dikurangi biaya. Hasil penjualannya berapa perusahaan sawit tidak akan tahu. Itu urusan PT DSI. Kecuali DSI sengaja membukanya.
Yang perusahaan sawit tahu: berapa biayanya untuk memproduksi salah satu dari lima turunan sawit itu.
Memang akan ada satu kesulitan teknis: perusahaan sawit biasanya punya beberapa PT.
Perusahaan kebun bisa saja di bawah PT tersendiri. Bahkan di bawahnya lagi mungkin saja ada perusahaan khusus pembibitan. Perusahaan kebunnya membeli bibit dari perusahaan pembibitan.
Lalu pabrik CPO-nya di bawah PT pengolahan. Perusahaan tersendiri pula. Perusahaan pengolahan CPO ini membeli bahan baku dari perusahaan kebun. Bahkan bisa saja ada perusahaan khusus eksporter. Perusahaan dagang ini membeli CPO dari perusahaan pengolahan.
Padahal yang akan dikoordinasikan oleh PT DSI adalah perusahaan eksporter. Bukan perusahaan pembibitan, bukan perusahaan perkebunan, bukan perusahaan pengolahan.
Selama ini belum tentu PT yang membawahi pabrik CPO punya izin ekspor. Yang memiliki izin ekspor adalah perusahaan eksporter. Maka dalam menentukan “laba yang wajar” harus dilihat berapa perusahaan eksporter itu membeli barang ekspornya dari pabrik pengolahan sawit –sebagian milik perusahaan eksporter sendiri, sebagian membeli dari pabrik pengolahan milik perusahaan lain.
Untuk menentukan laba yang wajar itu, awalnya saya ingin menyarankan pakai formula “cost +”. Atau bisa juga pakai formula “cost ++’. Bisa juga “cost +++”.
“Cost +” adalah biaya ditambah suku bunga. Kalau “cost ++” biaya ditambah suku bunga dan biaya inflasi. Sedang “cost +++” ditambah biaya pemeliharaan atau insentif produktivitas. Bahkan kalau mau plusnya ditambah satu lagi: plus keempat adalah biaya riset.
Banyak perusahaan sawit yang melakukan riset yang sangat serius. Riset benih. Riset pupuk. Riset hama. Ini harus ada nilai dan penghargaannya.
Memasukkan biaya pemeliharaan juga amat penting agar kebun terpelihara dengan baik. Jangan sampai pengusaha putus asa: mengabaikan pemeliharaan –akhirnya seperti ayam petelur yang disembelih ayamnya.