Oleh: Dahlan Iskan

Satu lagi: dari idealisme ke status pesakitan. Sudah setahun ini ia meringkuk di tahanan Kejaksaan. Namanya Anda sudah tahu: Donald Surjana Wihardja. Ia sarjana teknik komputer lulusan University of California dan meraih gelar master di ilmu yang sama dari salah satu universitas terbaik dunia, Cornell University.

Tahap pengadilannya hampir selesai. Hari ini hakim menjatuhkan vonis atas tuntutan jaksa 12 tahun penjara.

Sejak SMA Donald sudah sekolah di Amerika. Di Amerika pula ia berkarir di bidang keuangan, khususnya di venture capital. Di sana ia menemukan jodoh: sesama Tionghoa Indonesia. Dari perkawinan itu lahir empat anak: wanita semua.

Donald memutuskan pulang ke Indonesia: pada tahun 2018-an. Pemerintah di zaman itu sangat mendorong lahirnya start-up company. Di tahun 2015 BUMN seperti Telkom pun mendirikan venture capital untuk membiayai start up: MDI Ventures. Metra Digital Innovation.

MDI akan membiayai bidang start-up yang sangat luas. Mulai teknologi keuangan (fintech), teknologi pertanian (agritech) sampai start-up serupa di bidang kesehatan.

Untuk bidang pertanian MDI Ventures membiayai start-up Tani-Hub. Tidak sendirian. BRI Ventura Investama ikut serta. Ketika itu Donald belum masuk MDI Ventures. Pimpinannya masih dipegang Nicko Widjaja. Tapi saat pimpinan ganti ke Donald pembiayaan ke Tani-Hub masih terus berlangsung.

Tani-Hub sendiri didirikan dan milik perorangan –seperti umumnya start-up. Pendirinya adalah William Setiawan dan Michael Jovan Sugianto. Dalam perjalanannya masuk pula nama-nama lain seperti Ivan Arie Sustiawan dan Pamitra Wineka.

Setelah MDI Ventures dan BRI Ventura mengalirkan dana ke Tani-Hub dua anak BUMN itu menjadi bagian dari pemilik utama.

Nilai uang anak BUMN di Tani-Hub mencapai USD25 juta. Senilai sekarang sekitar Rp 400 miliar. Saya masih sulit memahami mengapa venture capital milik BUMN, membiayai start up milik orang Indonesia dengan objek bisnis pertanian di Indonesia investasinya dalam dolar.

 

Biasanya, perusahaan start-up lah yang aktif cari modal ke lembaga-lembaga venture capital. Baik di dalam maupun luar negeri. Start-up tersebut mengajukan proposal dalam bentuk perencanaan.bisnis. Lengkap. Mulai bidang usaha sampai rencana keuangannya. Digincu dengan daya tariknya: laba berapa di tahun keberapa. Diceritakan juga risiko-risikonya.