Komentator Spesialis
Re-Parsiaiaisasi… angelmen rek !
Komentator Spesialis
Dengan memeluk agama Islam, sebenarnya eksistensi Persia terus berlanjut. Kenapa ? Adalah Hussain bin Ali, cucu Rosulullah Muhammad SAW. Istri beliau adalah Syahrbanu, putri kaisar Sasaniyah. Dari sinilah aliran Syiah itu muncul. Dan itulah alasan orang orang Syiah, yang notabene muncul di Persia, hanya mengakui Hussain, tetapi tidak mengakui para sahabar Nabi lainnya. Ini benang merah yang dapat kita tarik, kenapa bangsa Parsia, yang menjadi negara Iran di hari ini, terus eksis sampai sekarang.
Er Gham 2
Jangan rendah diri. Ini bangsa unggul juga. Dikenal seantero dunia. Pokoknya hebatlah dalam pat gulipat keuangan. Masif, terstruktur, sistematis. Sayangnya belum dituangkan dalam sebuah buku saja.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
SHAHNAMEH, DRONE, DAN NASIONALISME YANG TIDAK PERNAH MATI Buku tua. Puisi pula. Ditulis seribu tahun lalu oleh Firdawsi. Tapi efeknya? Masih terasa sampai bunyi drone hari ini di Iran. Di sini menariknya. Nasionalisme ternyata tidak selalu lahir dari pidato politik. Kadang justru dari sastra. Dari cerita. Dari mitos yang diulang-ulang sampai masuk ke tulang. Tokoh seperti Arash bukan sekadar legenda. Ia berubah jadi “branding”. Dulu panah. Sekarang rudal. Dulu gunung. Sekarang satelit. Kita jadi berpikir. Indonesia punya banyak “Shahnameh kecil”. Tapi sering tercecer. Tidak dikurasi. Tidak dinarasikan ulang. Akhirnya kalah oleh konten 30 detik. Afifah Ahmad jadi menarik. Ia seperti jembatan. Antara teks kuno dan realitas hari ini. Antara Persia lama dan dunia modern. Pelajarannya sederhana. Bangsa besar bukan cuma kuat ekonomi. Tapi kuat cerita. Kalau cerita hilang, identitas ikut kabur. Kalau identitas kabur, ya tinggal nunggu saja… di-branding negara lain. Tanpa royalti. Tanpa izin. Bahkan tanpa sadar.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
ISI BUKU SHAHNAMEH.. Ditulis oleh Firdawsi. Seorang penyair istana. Bukan jenderal. Bukan raja. Tapi justru dia yang “menciptakan” raja-raja dalam ingatan kolektif Persia. Selesai sekitar tahun 1000 M. Bukan buku biasa. Ini epos. Panjangnya sekitar 50.000 kuplet. Kalau dicetak, bisa bikin rak buku menyerah duluan. Isinya? Sejarah bercampur mitos. Dari penciptaan dunia sampai runtuhnya dinasti. Tapi yang paling menggigit adalah kisah Rostam. Pahlawan super sebelum Marvel lahir. Kuat, gagah, tapi tragis. Ia tanpa sadar membunuh anaknya sendiri, Sohrab. Di situ dada pembaca ikut remuk. Kepahlawanan ternyata tidak selalu berakhir tepuk tangan. Ada juga Arash. Memanah sejauh batas negeri. Sekali lepas, langsung jadi simbol pengorbanan total. Satu anak panah, satu identitas bangsa. Shahnameh bukan sekadar cerita. Ia seperti “software” yang di-install ke jiwa bangsa Iran. Versinya sudah ribuan tahun. Tapi update-nya tidak pernah berhenti.