Wilwa
@DeniK. Dan suku Jawa pun sebenarnya heterogen dalam segala hal. Termasuk logat dan DNA. Yang terakhir ini tidak mengejutkan. Karena berbagai suku dan bangsa kawin mawin dengan “so-called” suku Jawa. Walaupun mungkin tetap haplogroup Y Chromosome O (Asia Tenggara & Tiongkok Selatan) yang dominan. Tapi haplogroup Y Chromosome J (Arab), R (Eropa, India, Persia), D (Mongolia) dll haplogroup Y Chromosome tetap eksis walau minoritas. Menurut wikipedia.
DeniK
Kalau disini terlalu banyak suku . Jadi mau kembali ke masa kejayaan yang mana ? Kalau Nusantara sudah terbentuk di bawah alam sadar identik dengan suku jawa . Sampai ada istilah jawanisasi
Juve Zhang
Iran dalam 2700 tahun sudah perang 1270 kali sama bangsa asing…. membuktikan mereka bangsa kuat… Amerika salah pilih lawan…
Irary Sadar
Ternyata di Iran ada universitas khusus perempuan dengan mata kuliah diantaranya Fisika dan Tekhnik. Jadi ada video yang meliput bahwa wanita Iran sedang merakit Drone dan Rudal di dalam pabrik itu bisa jadi benar adanya. Emezing…
Wilwa
@AchmadFaisol. Yang menarik adalah di abad 12 semasa Abbasiyah, Mekkah dan Madinah tidak ada dalam catatan traveler Benjamin of Tudela (1130-1175) dari Spanyol. Benjamin ini sekitar seabad sebelum Marcopolo. Dan bukunya mengenai geografi sangat terkenal saat itu. Yang menarik terkait Abbasiyah saat itu adalah Baghdad menjadi tujuan untuk “naik haji”. Bukan Mekkah atau Madinah. Bahkan Mekkah atau Madinah tak ada dalam peta yang dibuat Benjamin. Ini menguatkan asumsi bahwa tujuan naik haji pindah ke Mekkah setelah chaos akibat serangan Mongolia yang meruntuhkan Abbasiyah. Dan makin menguatkan asumsi bahwa MHMD kalaupun pernah ada tidak bermukim di Mekkah atau Madinah tapi kemungkinan di Petra. Dan itu bisa menjawab mengapa hadist-hadist Bukhari itu tidak ditulis di gurun di Mekkah atau Madinah tapi nun jauh di pegunungan “Iran” yaitu di Bukhara (di Uzbekistan masa kini) yang menjadi wilayah kekuasaan Abbasiyah. Tak ada ritual naik haji ke “so-called” Mekkah atau Madinah masa kini. Karena untuk ke Mekkah kalaupun sudah ada saat itu harus melintasi gurun yang sangat ganas yang sangat sulit ditempuh. Itu yang ada dalam catatan perjalanan Benjamin of Tudela. Tak ada yang naik haji ke Mekkah tapi ke Baghdad. Dan buku ini memicu banyak pertanyaan yang sulit dijawab sejarawan Muslim mengenai validitas Sirah Nabawiyah ataupun Hadist. Karena sejarah dalam dua kitab ini tak dapat dikonfirmasi dari sumber-sumber di luar Abbasiyah itu sendiri.