Irary Sadar

Dulu semasa SMP saya sangat senang meminjam buku di perpustakaan sekolah. Kebanyakan buku-buku karya penulis Pujangga Baru. Dari buku tulisan Sutan Takdir Alisyshbana, Soeman HS, Marah Rusli, Armin Pane, Sanusi Pane hingga Ali Akbar Navis. Salah dua buku yang -waktu itu- sangat terkesan bagi saya adalah : Robohnya Surau Kami karya A. A Navis dan Mencari Pencuri anak Perawan buah pena Soeman HS.

Otong Sutisna

Indonesia apakah kekurangan penulis sejarah, menurut saya tidak… penulis buku sudah kalah sama cerita atau berita online, yang kadang tak bisa di pertanggung jawab kan, anak2 sekarang lebih suka lihat referensi di kanal online dan AI, untuk mencari tahu atau mengerjakan tugas sekolah, daripada beli buku atau pinjam buku di perpustakaan…. itu termasuk saya, sudah males baca buku, lebih enak lewat online. zaman telah berubah, lebih nikmat yang instan, namun hasilnya pasti kurang memuaskan. cepat mendapatkan jadi cepat bosan.

Wilwa

Duh kena text limit. Lanjut. Perang nuklir mungkin akan memusnahkan semua 8 milyar lebih homo sapiens. Bukan lagi ke zaman batu tapi ke zaman ketika bumi ini hanya dipenuhi berpuluh ribu species serangga di darat dan hewan tak bertulang belakang di laut. Plus jutaan species bakteri dan virus. Dan perlu jutaan tahun lagi hingga terbentuk species “cerdas” lagi yang entah apa namanya kelak. Kita tidak tahu namanya karena kita homo sapiens telah punah menjadi sejarah yang terlupakan seperti sejarah dinosaurus. Tak ada yang mencatat apalagi membaca sejarah species bernama homo sapiens. Hmmm. Hari ini saya menulis satire mengenai species dimana saya tergolong di dalamnya. :):):). Semoga perang nuklir bisa dicegah. Homo sapiens tetap eksis. Dan saya masih bisa menulis untuk curhat di Disway! Tabik!

Wilwa

@MadaSuradi. Agama itu racun adalah opini Christopher Hitchens, salah satu dari 4 pelopor atheisme modern selain Richard Dawkins, Sam Harris dan Daniel Dennett. Saya pribadi bukan atheist karena atheist tidak percaya pada hidup setelah mati. Saya percaya pada kelahiran kembali walaupun itu sulit dibuktikan. Sama seperti kepercayaan Anda mengenai malaikat maut pencabut nyawa yang konon (konon lho ya) dipercayai Yahudi-Kristen-Islam yang juga sulit dibuktikan. Agama menurut opini saya pribadi adalah obat. Bagus dan bermanfaat bagi homo sapiens. Terutama agar homo sapiens bisa bermoral, berakhlak, atau beretika. Kalau gak bermanfaat gak mungkin masih bertahan sampai kini. Tapi masalahnya adalah bila obat itu overdosis maka obat itu menjadi racun. Agama yang membuat kita bermoral atau berakhlak itu hanya sarana agar kita berempati pada sesama homo sapiens yang menjadi tujuan akhirnya. Sekali lagi agama itu hanya sarana bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah empati. Kasih sayang, welas asih, cinta kasih, compassion, benevolence, ren 仁, rahman rahim, apapun istilahnya. Orang atheist, monotheist, politheist, animist, pemuja leluhur, apapun agama dan kepercayaannya bisa kok punya empati. Empati itu sudah ada dalam diri dan hati homo sapiens bahkan sebelum ribuan agama dan kepercayaan itu lahir. Agar homo sapiens survive. Ironisnya homo sapiens ketika makin banyak eh malah kehilangan empati dan saling bunuh. Karena kebencian dan keserakahan. Perang nuklir mungkin akan memusnahkan