Wilwa

@Vikara. 600.000? Benarkah sebanyak itu? Apakah tidak berlebihan? Coba kita asumsikan kita hanya punya waktu dikurangi tidur selama 16 jam sehari. Kali setahun 365 hari jadi 5840 jam. Anggaplah untuk sebuah hadist sah diperlukan sejam untuk mandi, shalat, istikharah. Hitungan saya diperlukan lebih dari 100 tahun untuk review 600.000 hadist itu. Masuk akalkah?

Vikagora Prayogi

Dari imam bukhari yang nama aslinya adalah Muhammad anak dari Ismail kita bisa belajar bagaimana pentingnya mengambil ilmu dari sumber yang benar, sumber utama ilmu itu adalah Tuhan di sampaikan ke utusannya, salah satunya yaitu Muhammad, bagaimana metode beliau menulis buku yang paling akurat di dunia setelah alqur’an; Imam Bukhari menghabiskan 16 tahun untuk menyusun kitab Shahih-nya, dengan sangat selektif hanya meriwayatkan hadis yang benar-benar sahih. Dari sekitar 600.000 hadis yang ia hafal, hanya sekitar 7.275 hadis (termasuk pengulangan) yang ia pilih untuk dimasukkan ke dalam kitabnya. Setiap hadis yang akan dimasukkan, ia wajib mandi, shalat dua rakaat, dan beristikharah terlebih dahulu. Ia menerapkan kriteria super ketat: rangkaian perawi harus bersambung, para perawi harus adil dan kuat hafalannya, serta tidak ada yang bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat dan tidak memiliki cacat. Sebelum mencatat satu hadis, ia mensyaratkan perawi hadis tersebut harus pernah bertemu langsung dengan gurunya, sebagai bukti sanad bersambung. Sementara banyak penulis buku yang kurang selektif dalam menggali sumber informasi, sehingga bisa jadi informasi yang disampaikan salah. Salah satu contohnya itu agen mossad di tulisan abah kemarin akibatnya bikin perang. Setiap orang pasti dipengaruhi guru baik itu orang atau buku, jadi guru yang bagus akan membentuk seseorang menjadi bagus sebaliknya juga begitu

Saifudin Rohmaqèŕqqqààt

Iran dipengaruhi budaya parsi, kalau saya budaya Jawa. Karakter yg dibentuk lingkungan Jawa,begitu meresap ke sanubari dan menyatu dengan hati. Gambarannya sangat elegan. Seperti apa? Budaya yg masuk ke hati saya, sperti sebuah permainan sepak bola antar pedusunan Jawa. Ketika pemain lawan bersusah payah menyerang dan membawa operan operan bola yg lincah, dan sampai di depan gawang maka sang kiper akan berkata dengan lembut, ” Mas Stiker, mangga bola nipun dipun mlebetaken kemawon supados dadi gol.” Tak diduga sang stiker yg asli Jawa menjawab dengan penuh lembut pula,’ inggih gampil, mangkeh kemawon mboten Napa Napa.” Sehingga pertandingan selalu berakhir seri atau draw. Tidak ada yg menang. Demikianlah, kami diajarkan untuk menghormati orang lain. Tapi ketika mendapatkan penghormatan harus tetap rendah hati.,memuliakan orang lain.