Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

ROSTAM: PAHLAWAN YANG MEMBUNUH ANAKNYA SENDIRI Nama Rostam besar sekali. Ototnya seperti legenda. Keberaniannya seperti tidak punya rem. Ia ksatria utama dalam Shahnameh karya Firdawsi. Tapi justru kisah terbesarnya bukan soal menang perang. Melainkan kalah oleh takdir. Suatu malam, Rostam singgah di negeri asing. Ia bertemu seorang putri. Singkat cerita, lahirlah anak: Sohrab. Tapi Rostam pergi. Tanpa tahu wajah anaknya kelak. Tahun berlalu. Sohrab tumbuh jadi petarung hebat. Sama kuat. Sama keras. Ia mencari ayahnya. Takdir punya selera humor yang gelap. Mereka bertemu di medan perang. Tidak saling kenal. Dua singa bertarung. Debu naik. Pedang beradu. Rostam akhirnya menang. Sohrab roboh. Di detik terakhir, identitas terbuka. Terlambat. Sunyi mendadak mahal. Pahlawan terbesar itu runtuh. Bukan oleh musuh. Tapi oleh kebenaran. Di sini Shahnameh terasa kejam sekaligus jujur. Bahwa kemenangan tidak selalu mulia. Kadang hanya menyisakan penyesalan. Dan sejarah, diam-diam, mencatatnya tanpa empati.

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

KISAH ARASH.. Di masa genting, negeri Persia hampir habis. Perang panjang. Batas wilayah kabur. Lalu muncul sayembara: siapa bisa menentukan batas dengan satu anak panah. Muncullah Arash. Bukan raja. Bukan bangsawan. Hanya pemanah. Tapi tekadnya setinggi gunung. Ia naik ke puncak. Konon dari Damavand. Angin dingin. Nafas berat. Ia tahu satu hal: panah ini bukan sekadar besi dan kayu. Ini hidupnya sendiri. Ia menarik busur. Seluruh tenaga. Seluruh jiwa. Dilepas. Panah melesat. Jauh. Sangat jauh. Menembus lembah, sungai, dan waktu. Jatuh di titik yang menentukan batas baru Persia. Negeri selamat. Tapi Arash tidak. Tubuhnya hancur. Energinya habis bersama panah itu. Ia “menjadi” panahnya sendiri. Satu tembakan. Satu pengorbanan total. Cerita ini sederhana. Tapi menggigit. Kadang negara berdiri bukan oleh banyak orang. Cukup satu orang. Yang rela habis. Tanpa sempat menikmati hasilnya. Ironis. Tapi justru di situ letak heroismenya.