Catatan Dahlan Iskan

Da Yunhe

Bagikan
Di depan rumah penulis buku Journey to the West.--
Bagikan

Saya harus minta maaf tiga kali ke kota kecil ini: Huai An.

Pertama, karena saya tidak menyangka kota kecil ini melahirkan penulis buku kelas dunia: Journey to the West –dengan tokoh utamanya Sun Wukong: yang di Indonesia diucapkan dengan Sun Gokong.

Maaf kedua: kenapa saya tidak tahu latar belakang banyak orang kaya lama di kota ini. Padahal kota kaya selalu melahirkan peradaban yang unggul. Termasuk peradaban di bidang makanan. Karena itu terjawab sudah: mengapa pula banyak makanan enak di sini.

Makanan di Hong Kong juga terkenal enak karena chef terbaik dari seluruh Tiongkok “lari” ke Hong Kong. Kumpul di sana. Cari gaji tinggi. Tepatnya: mereka dirayu atau dibajak.

Hong Kong lewat kemakmurannya mampu membayar mahal chef terbaik. Zaman itu Tiongkok-daratan masih amat miskin: lebih miskin dari Indonesia.

Ketiga: saya tidak menyangka perdana menteri masa lalu yang amat terkenal di Tiongkok, Chu Enlai lahir di sini. Ia anak orang kaya. Mampu mendatangkan guru terbaik ke rumahnya. Anak kecil seperti Chu Enlai pun mendapat pendidikan terbaik.

Penulis buku Journey to the West, Wu Chang En, juga anak orang kaya. Tepatnya: cucu orang kaya. Ayahnya sempat jadi pedagang besar di Huai An. Lalu jatuh miskin. Kakeknya yang kaya memang pernah jadi gubernur di situ.

Di masa lalu, Huai An ternyata kota yang kelasnya di atas ibu kota provinsi. Kepala daerahnya disebut gubernur meski tanpa wilayah provinsi. Level kekuasaan gubernur Huai An di atas menteri –setingkat wakil perdana menteri.

Itu semua hanya karena satu hal: Huai An adalah pusat pengaturan dan pengawasan sistem logistik terpenting di seluruh Tiongkok. Zaman itu: lebih 1000 tahun lalu. Waktu itu sistem logistik Tiongkok mengandalkan jalur air. Bukan darat. Bukan udara. Jalur air pun bukan laut, tapi sungai besar.

Padahal di Tiongkok tidak ada sungai yang mengalir dari selatan ke utara. Atau sebaliknya. Semua sungai besar di sana mengalir dari barat ke timur. Yakni dari arah pegunungan Kunlun ke Laut Jepang.

Itu membuat ibu kota Beijing –yang nun jauh di utara– kekurangan pangan.

Bagikan
Written by
Ari Nur Cahyo

Penulis di FIN Corp sejak Maret 2022 yang fokus mengeksplorasi dunia Teknologi, Sepak Bola, dan Anime. Memiliki ketertarikan kuat pada isu-isu viral, ia berkomitmen menghadirkan konten yang segar, informatif, dan relevan dengan tren masa kini.

Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Jalan Makmur

Oleh: Dahlan Iskan Kalau saja kemakmuran bisa menular, maka yang punya potensi...

Catatan Dahlan Iskan

Halo Wani

Oleh: Dahlan Iskan Tidak mudah menjadikan Halo BCA juara dunia Contact Center...

Catatan Dahlan Iskan

Juara Dunia

Oleh: Dahlan Iskan Sepatu harus dicopot. Ganti sandal: sandal halo. HP tidak...

Catatan Dahlan Iskan

Hidup QRIS

Oleh: Dahlan Iskan Kemarin kami makan siang dengan tamu dari Beijing. Di...