mario handoko
selamat siang bp thamrin, bp agus, bp jo, bp jokosp, bp udin, bp mul, bp em ha dan teman2 rusuhwan langkah langkah seorang lurah agar negerinya ketularan makmur. sepulang beliyo bepergian. langsung kumpulkan relawan dan ponggawa2 negeri. untuk mendengarkan pidato. isi pidato yang disuarakan di atas podium : betapa kayanya negeri si lurah. betapa suksesnya program2 si lurah. betapa negeri lain ingin belajar dari si lurah. betapa banyak antek asing yg ingin mengacaukan negeri si lurah. betapa mulia memaafkan orang yg telah memberi nilai 11 dari 100 utk si lurah. selesai pidato, lanjut acara tepuk tangan bersama. beberapa hari kemudian. pak lurah bepergian kembali. demikian diulang ulang terus. sampai negeri pak lurah tsb makmur beneran.
Liáng – βιολί ζήτα
iseng-iseng saja. Makmur dalam bahasa Chinese adalah 繁荣 (Fánróng). Konsep 繁荣 (Fánróng) diketahui/ditemukan dalam 抱朴子 (Bào pǔ zǐ) karya 葛洪 (Gé hóng) semasa Dinasti Jìn, menggunakan fenomena alam (vegetasi subur) untuk secara metaforis menggambarkan perkembangan usaha sosial. Makmur (Kemakmuran) itu, adalah suatu proses Tumbuh (Pertumbuhan)….. oleh karena itu, menurut pendapat saya pribadi “Tumbuh Makmur” atau “Proses Makmur” sepertinya lebih pas….. ketimbang “Jalan Makmur”. Lha….. setelah menemukan “Jalan Makmur”….. lantas prosesnya bagaimana ?? Satu hal yang pasti….. Jalan Makmur itu di sekitaran Jalan Pasteur, Bandung….. Abah. Nanti, kalau Abah sudah menemukan Jalan Makmur yang di Bandung itu….. sepertinya Abah boleh berteriak “YES” – sekarang kita Makmur….. wkwkwkwkwk…..
Eyang Sabar56
Abah, Kenapa di JALAN MAKMUR ini tidak disentil dikit saja Indonesia? Atau nanti perusuh saja yang menggorengnya hingga gosong. Abah memang hebat, dilihat dari sisi manapun. Cuma disisi lainnya masih kalah sama Kung Agus S. Jangan lapor polisi yah Bah, Saya orang susah.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
BAGAIMANA INDONESIA, 100 TAHUN KE DEPAN? Seratus tahun ke depan, Indonesia berdiri di tiga kaki: 1) demografi, 2) produktivitas, dan 3) institusi. Bonus demografi selesai sebelum 2045. Setelah itu menua. Kalau pendidikan dan kesehatan tidak pas, kita hanya akan jadi penonton di negeri sendiri. Proyeksi World Bank dan OECD menyebut Indonesia bisa masuk 5–7 besar ekonomi dunia sebelum 2060. Syaratnya jelas: 1) Naik kelas industri, 2) Bukan sekadar jual bahan mentah. 3) Hilirisasi harus bernyawa, bukan sekadar jargon rapat. Lalu faktor kunci yang sering dianggap rutinitas: Pemilu 5 tahunan. Ini sebenarnya mesin penentu arah. Pemilu yang sehat itu sederhana tapi sulit: 1) Kompetisi program, bukan sekadar popularitas; 2) Pembiayaan transparan; 3) Birokrasi netral; dan 4) Kesinambungan kebijakan lintas rezim, yang kalau dulu toolnya adalah GBHN. 5) Investor suka kepastian, bukan drama lima tahunan yang reset dari nol. Apalagi yang dilakukan adalah yang terlanjur dipidatokan. Bukan hasil proses riset dan perencanaan. Risiko kita ada di institusi yang goyah dan kebijakan zig-zag karena tanpa riset dan perencanaan matang itu. Itu resep klasik “middle income trap”. Di geopolitik, kita tetap di tengah antara Tiongkok dan Amerika Serikat. 1) Seratus tahun lagi, kita bisa jadi raksasa. 2) Atau tetap “calon” raksasa. Bedanya cuma satu: Konsistensi. Dan, sedikit—ya, sedikit saja—akal sehat saat pemilu.