gubernur kota
Berapa banyak study conprehensive yang menyimpulkan suatu negara bisa maju sangat bergantung pada kualitas pemimpinnya bukan karena kualitas rakyatnya? Atau justru kebalikannya? Atau justru kualitas ke-duanya adalah syarat mutlak? Banyak dari kita merasakan keresahaan ini. Tapi kurang keyakinan dalam realita kualitas kita.
Kujang Amburadul
“Tiru Iran, Purbaya buka opsi pajaki kapal-kapal yang melewati Selat Malaka” Media (jadi saya nilai abal-abal) ini konyolnya gak ngotak, candaan menteri aja dia jadiin headline. Saya tak berharap Disway membuat berita semacam ini, walaupun cuma judul.
Ricky Fernando
Selamat pagi Pak Dahlan yang lagi berada di Tiongkok. Saya kebetulan juga meneliti tentang suksesi family business khususnya Chinese family business di Indonesia untuk doktoral saya di Luxembourg beberapa tahun lalu. Dan saya yakin temuan saya lebih menarik dibanding Dr. Hadi tanpa bermaksud mendisreditkan beliau. Saya sempat coba kontak anda melalui asisten anda beberapa tahun kemarin tapi sayangnya belum tembus. Semoga kita punya kesempatan bertemu untuk sharing. Saya yakin temuan saya bisa menyelamatkan banyak keluarga dari kehancuran dan pertengkaran yang tidak perlu. Salam
Liáng – βιολί ζήτα
Abah DI lagi di Dōngguǎn (东莞) ?? Mungkin Abah tertarik untuk menulis tentang Jenderal terkenal semasa Dinasti Míng, yang berasal dari Dōngguǎn (东莞) : Jenderal Yuán Chónghuàn (袁崇煥), kelahiran Dōngguǎn (东莞) 6 Juni 1584, dan dihukum mati 22 September 1630 karena dikhianati oleh beberapa kasim, terutama kasim Wèi Zhōngxián (魏忠賢). Strategi perang Jenderal Yuán Chónghuàn (袁崇煥), tentu saja sangat efektif pada masa tersebut, berhasil menahan serangan 130.000 pasukan Manchu, hanya dengan 9.000 pasukan yang dipimpinnya. Sebelum dihukum mati, Jenderal Yuán Chónghuàn (袁崇煥) menulis puisi-nya yang terakhir : 一生事業總成空,半世功名在夢中。 死後不愁無將勇,忠魂依舊守遼東! Dan….. gara-gara puisi tersebut….. Dinasti Jìn berganti nama menjadi Dinasti Qīng.
Vikagora Prayogi
Apa sih ukuran suatu kemakmuran itu? Apa harus pendapatan semua warga sekian ribu dolar? Apa harus sudah tidak ada warga miskin? Semua harus menjadi kaya? Apakah kemakmuran itu harus identik dengan SDA yang melimpah? Apakah dizaman dulu tidak ada contoh kemakmuran yang pernah terjadi? Sampai kiamat terjadi pun yang miskin pasti ada, kalau tidak ada orang miskin siapa yang akan bekerja dengan orang kaya? Harusnya kemakmuran itu cukup diukur dengan tingkat kebahagiaan warga saja. Yang miskin tetap bekerja dengan baik, yang kaya jangan pelit karena di hartanya ada hak orang miskin yang harus ditunaikan.