Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
BISAKAH DI ZAMAN SEKARANG MENCAPAI KEMAKMURAN MELALUI PERANG DAN PENJAJAHAN? Jawaban ilmiahnya makin jelas: tidak efisien. Dulu, kolonialisme memberi rente. Sekarang, biaya perang melonjak, hasilnya turun. Data World Bank dan studi IMF menunjukkan konflik modern justru: menekan PDB, investasi, dan produktivitas. Infrastruktur hancur, talenta pergi, utang menumpuk. Menang perang, kalah masa depan. Ekonomi abad ke-21 berbasis jaringan. Nilai tercipta dari rantai pasok global, teknologi, dan kepercayaan. Penjajahan merusak tiga-tiganya. Sanksi, boikot, dan reputasi menjadi “senjata sunyi”. Negara agresor sering terkunci dari pasar dan inovasi. Seperti membuka toko, tapi mengusir semua pelanggan. Ada pengecualian jangka pendek. Industri militer bisa tumbuh. Tapi itu seperti minum kopi tiga gelas: melek sesaat, jantung berdebar lama. Pertumbuhan tidak berkelanjutan. Studi konflik oleh United Nations menunjukkan negara pascaperang butuh puluhan tahun untuk pulih—kalau beruntung. Kemakmuran kini lahir dari 1) pendidikan, 2) Institusi kuat, dan 3) Stabilitas. Bukan dari merampas wilayah. Dunia berubah. Yang masih percaya penjajahan sebagai jalan kaya, mungkin sedang membaca peta abad lalu. Sementara kereta ekonomi sudah melaju ke arah sebaliknya.
Irary Sadar
Jadi ingat Bambang Pacul ngomong saat pada saat Rpat Komisi III DPR. Yang intinya ‘Korea-korea ini” -begitu menurut Bambang Pacul, Siap kalau di perintah Juragan. RUU harus dibicarakan dengan para ketua Partai. Kalau disini -maksudnya di DPR-, tidak bisa. Hahaha, Anggota DPR saja lebih milih ke ketua Partai dari pada memilih kepentingan rakyat. Bagaimana dengan ketua partainya. Bagaimana dengan Ketua/Kepala pemerintahannya. Sejatinya kita tidak akan bisa tertular dengan kemakmuran itu sendiri, jika pemangku kepentingan di Konoha tidak ingin rakyatnya makmur. Hehehe…
Wilwa
Jalan menuju kemakmuran sebenarnya sederhana secara konseptual/teoritis namun rumit dalam penerapan/prakteknya. Secara teori untuk makmur tentu saja tak ada konflik apalagi perang. Alias stabilitas politik bahasa kerennya. Masalahnya homo sapiens entah mengapa hobinya seolah hanya konflik/perang. Mulai dari konflik rebutan lahan parkir antar preman di kota besar sampai rebutan sumber daya alam atau rebutan menguasai selat Hormuz untuk contoh terkini. Untuk masalah perang ini saja sudah bikin pening, jadi butuh keajaiban agar homo sapiens berhenti berperang dan bisa makmur bersama-sama. No one left behind. Seperti slogan Xi Jin Ping bahwa semua warga negara Tiongkok makmur semua tanpa seorang pun jatuh dalam kemiskinan ekstrem. Dan ini adalah syarat kedua menuju kemakmuran yaitu pembangunan infrastruktur. Dengan kemajuan science dan teknologi masa kini mestinya bisa mewujudkan apa yang mungkin hanya jadi khayalan homo sapiens 200-300 tahun yang lalu. Transportasi dan komunikasi berkembang begitu pesat sehingga dunia ini seperti kampung kecil saja layaknya. Hampir tak ada lagi orang yang tak punya smartphone. Yang tak hanya jadi alat komunikasi atau untuk mendapat informasi tapi juga untuk transaksi ekonomi. Smartphone adalah salah satu infrastruktur yang paling mengubah hidup homo sapiens. Berikutnya jelas adalah robotisasi, self driving hingga AI. Hmmm. Jadi untuk dunia ini makmur syaratnya simple: bangun infrastruktur (seperti Tiongkok) dan jangan hobi perang (seperti USA).