finnews.id – Pasar keuangan global sedang tertuju pada pergerakan mata uang utama hari ini. Dolar AS terpantau menguat tipis sementara Yen Jepang cenderung stabil pada perdagangan Selasa. Fokus para investor kini terbagi antara kebijakan bank sentral dunia dan ketegangan perang Iran yang terus membayangi stabilitas ekonomi.
Yen sempat menunjukkan taringnya setelah Bank of Japan (BOJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga dalam pemungutan suara yang berlangsung cukup alot. Namun, penguatan itu tidak bertahan lama. Mata uang Sakura tersebut terakhir berada di level 159,69 terhadap dolar dan bergerak tipis di posisi 186,73 terhadap euro.
Sinyal dari Bank of Japan: Antara Inflasi dan Pertumbuhan
Dalam laporan prospek triwulanan terbarunya, BOJ melakukan revisi tajam. Mereka menaikkan perkiraan inflasi inti untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2027 dan 2028. Di sisi lain, mereka justru memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk periode yang sama.
Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, dalam konferensi persnya memang membuka pintu bagi kenaikan suku bunga di masa depan. Namun, ia tidak memberikan jadwal pasti kapan perubahan kebijakan tersebut akan dieksekusi.
Takeshi Ishida, ahli strategi di Kansai Mirai Bank, memberikan analisis menarik terkait fenomena ini:
“Yen menguat tepat setelah pertemuan kebijakan karena prospek ekonomi BOJ bersifat hawkish, dan ada tiga anggota yang berbeda pendapat mengenai keputusan tersebut. Jadi pasar dengan hati-hati menunggu konferensi pers (Gubernur BOJ) Ueda. Tetapi dia tidak se-hawkish seperti yang terdengar dalam pernyataan tersebut, itulah sebabnya yen mengurangi kenaikan awal.”
Kekhawatiran terhadap pelemahan Yen masih menghantui Tokyo. Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, bahkan kembali memperingatkan para spekulan. Ia menegaskan bahwa otoritas “siap siaga sepanjang waktu” untuk mengambil “tindakan tegas” guna meredam volatilitas pasar.
Indeks Dolar AS Mengakhiri Tren Penurunan
Di belahan dunia lain, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama berhasil bangkit. Dolar mengakhiri penurunan selama dua hari dan diperdagangkan naik hampir 0,3 persen ke level 98,76.
Kenaikan ini terjadi di tengah situasi geopolitik yang memanas. Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah membahas proposal baru dari Iran terkait penyelesaian perang. Meski begitu, Trump dikabarkan tidak puas dengan usulan tersebut karena tidak menyentuh pembahasan program nuklir Iran.
Menariknya, meskipun harga minyak berjangka naik akibat ketidakpastian konflik, dolar AS sempat kesulitan mencari dukungan. Derek Halpenny dari MUFG menjelaskan bahwa optimisme di sektor teknologi AS menjadi salah satu penyebabnya.