Home Emas Harga Emas Tergelincir Saat Perang Memanas, Sinyal The Fed Bikin Investor Siaga Penuh
Emas

Harga Emas Tergelincir Saat Perang Memanas, Sinyal The Fed Bikin Investor Siaga Penuh

Bagikan
Harga emas turun saat konflik AS-Iran dan lonjakan minyak memicu kekhawatiran inflasi. Investor menanti sinyal The Fed dan arah suku bunga global.
Ilustrasi - Emas Batangan (Pexels - Zlaťáky.cz)
Bagikan

finnews.id – Harga emas dunia mulai kehilangan pamor di tengah memanasnya tensi geopolitik dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan bank sentral global. Di saat harga energi melonjak akibat konflik Amerika Serikat dan Iran, pasar justru melihat emas bergerak melemah karena tekanan inflasi berpotensi menahan penurunan suku bunga lebih lama.

Pada perdagangan Senin (27/4/2026), harga emas spot turun 0,6 persen menjadi US$4.682,13 per ons. Sementara emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak Juni ditutup turun 1 persen ke level US$4.693,70 per ons.

Koreksi ini muncul saat investor mulai menggeser fokus dari status emas sebagai aset lindung nilai menuju risiko makro yang lebih besar, yakni inflasi tinggi dan potensi suku bunga bertahan di level ketat.

Pasar juga tengah mencermati satu pertanyaan besar: apakah emas masih menjadi tempat berlindung yang aman ketika perang justru mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan hawkish?

Konflik AS-Iran dan Selat Hormuz Jadi Sentimen Ganda untuk Emas

Ketidakpastian geopolitik masih menjadi latar utama pergerakan pasar. Upaya diplomatik untuk meredakan konflik Washington dan Teheran belum menunjukkan hasil konkret. Bahkan, minimnya progres negosiasi membuat pasar semakin waspada terhadap risiko gangguan pasokan energi global.

Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia masih terganggu. Sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global melalui laut biasanya melewati kawasan ini, sehingga setiap gangguan langsung memengaruhi sentimen pasar.

Harga minyak Brent yang melonjak ke level tertinggi tiga pekan justru menjadi tekanan tambahan bagi emas. Kenaikan energi memicu kekhawatiran inflasi bertahan lebih lama, dan itu membuat investor mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga.

Kepala Strategi Komoditas TD Securities, Bart Melek, menilai pasar belum yakin akan ada kesepakatan kuat dalam waktu dekat yang bisa membuka kembali jalur strategis tersebut.

Kondisi itu, menurutnya, menjadi faktor yang menahan pergerakan emas dan perak.

Sinyal The Fed Jadi Beban Baru untuk Logam Mulia

Fokus pasar kini beralih ke Washington. Investor menunggu keputusan Federal Reserve yang dinilai akan menjadi penentu arah baru pasar emas.

Bagikan
Artikel Terkait
Proyeksi harga emas 2026 naik ke rekor baru didorong bank sentral, geopolitik dan ketidakpastian global, meski risiko koreksi masih membayangi.
Emas

Harga Emas 2026 Diproyeksi Tembus Rekor Baru, Bank Sentral Jadi Mesin Pendorong Utama

finnews.id – Prospek harga emas 2026 kembali memantik perhatian pasar global. Di...

Emas

Harga Emas Pegadaian Senin 27 April: Antam, UBS, dan Galeri24 Kompak Stagnan

finnews.id – Harga emas batangan di PT Pegadaian (Persero) tidak menunjukkan perubahan...

Emas

Investasi Praktis: Cara Menabung Emas Digital di Pegadaian Hanya Lewat HP

finnews.id – Tren investasi emas mengalami pergeseran signifikan dalam beberapa tahun terakhir....

Emas

Harga Emas Pegadaian Kompak Melejit Hari Ini, Antam Tembus Rp2,93 Juta per Gram

finnews.id – Kabar mengejutkan datang dari pasar logam mulia pada akhir pekan...