Home Kurs Dolar AS Melemah, Sinyal The Fed Berubah? Pasar Mulai Bersiap untuk Era Suku Bunga Lebih Rendah
Kurs

Dolar AS Melemah, Sinyal The Fed Berubah? Pasar Mulai Bersiap untuk Era Suku Bunga Lebih Rendah

Bagikan
Dolar AS kehilangan tenaga usai sinyal dovish menguat, pasar mulai berspekulasi soal pemangkasan suku bunga The Fed.
Ilustrasi - Mata Uang Dolar AS (Pexels - Atlantic Ambience)
Bagikan

finnews.id – Dolar Amerika Serikat mulai kehilangan tenaga. Di tengah gejolak geopolitik dan spekulasi kebijakan moneter, pasar membaca munculnya sinyal baru dari Federal Reserve yang berpotensi mengubah arah suku bunga global.

Pada perdagangan Jumat (24/4/2026), dolar AS melemah setelah sentimen dovish menguat menyusul keputusan Departemen Kehakiman AS menghentikan penyelidikan terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

Langkah itu langsung memicu spekulasi baru di pasar, terutama terkait peluang Kevin Warsh, sosok pilihan Presiden Donald Trump untuk memimpin bank sentral, yang dinilai bisa membawa arah kebijakan lebih longgar.

Sentimen tersebut mendorong pelaku pasar mulai mengerek ekspektasi pemangkasan bunga acuan.

Trader kontrak berjangka suku bunga The Fed kini memperkirakan peluang 38% penurunan suku bunga hingga akhir tahun. Angka ini melonjak dari sebelumnya 23%.

Kenaikan ekspektasi itu langsung memberi tekanan ke greenback.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap sekeranjang mata uang utama, turun 0,28% ke level 98,55.

Sementara euro naik 0,27% ke level US$1,1714, yen Jepang menguat 0,19% ke 159,4 per dolar, dan poundsterling menguat 0,42% ke US$1,3523.

Nama Kevin Warsh Muncul, Pasar Langsung Baca Arah Baru The Fed

Fokus pasar tak hanya tertuju pada melemahnya dolar, tetapi juga pada potensi perubahan arah kepemimpinan The Fed.

Noah Buffam, Direktur Strategi FICC di CIBC Capital Markets Toronto, menilai pasar menangkap perkembangan ini sebagai sinyal dovish.

“Pasar membaca ini sebagai sesuatu yang sedikit dovish,” ujar Buffam.

Menurut dia, Warsh dinilai lebih memberi perhatian pada ukuran inflasi trimmed mean dan median, yang lebih rendah dibanding inflasi inti yang selama ini menjadi fokus Powell.

Itu dinilai bisa membuka ruang pemangkasan suku bunga lebih agresif.

Prospek inilah yang mulai menekan dolar, meski indeks dolar masih mengarah mencatat kenaikan mingguan 0,32%.

Optimisme Damai AS-Iran Ikut Tekan Greenback

Bukan hanya faktor The Fed yang mengguncang pasar valuta asing.

Bagikan
Artikel Terkait
Kurs

Dolar AS Melaju Kuat: Picunya, Ketegangan di Timteng dan Kebuntuan Perundingan AS-Iran

finnews.id – Pasar mata uang dunia kembali bergejolak di penghujung pekan ini....

Bitcoin ETF
Kurs

Harga Bitcoin Melejit ke 79.500 Dolar AS, Ternyata Ini Faktor Penentunya

finnews.id – Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan performa impresif dengan mendekati level...

Kurs

Butuh Modal Usaha? Cek Syarat Terbaru KUR BRI 2026 dengan Plafon hingga Rp500 Juta

finnews.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali membuka keran permodalan...

Kurs

Rupiah Terperosok ke Rp17.300, Efek Gagalnya Diplomasi AS-Iran dan Harga Minyak

finnews.id – Nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren pelemahan yang mengkhawatirkan pada...