Alasannya, Eropa perlu meredam guncangan energi jika konflik Timur Tengah memanas.
Di Inggris, Bank of England juga diperkirakan belum mengubah kebijakan pekan depan, meski pasar mulai memperhitungkan kenaikan bunga hingga akhir tahun.
Sementara Jepang menghadapi cerita berbeda.
Inflasi inti konsumen di negara itu turun di bawah target 2% untuk bulan kedua berturut-turut pada Maret.
Meski demikian, pasar tetap memperkirakan tekanan harga bisa kembali naik akibat biaya energi.
Bank of Japan diperkirakan menahan suku bunga, namun memberi sinyal siap mengetatkan kebijakan jika tekanan inflasi meningkat.
Bahkan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama kembali mengeluarkan peringatan soal intervensi pasar jika ada pergerakan spekulatif di yen.
Dolar Masih Tertekan, Tapi Pasar Belum Berani Bertaruh Besar
Meski dolar melemah, pergerakannya belum membentuk tren agresif.
Investor masih menahan diri karena dua katalis utama—arah kebijakan The Fed dan hasil negosiasi geopolitik—belum memberi kepastian.
Itulah yang membuat pasar bergerak dalam rentang sempit.
Di pasar kripto, sentimen wait and see juga terlihat. Bitcoin turun 0,47% ke US$77.558, menandakan investor belum sepenuhnya berani masuk ke aset berisiko.
Kondisi ini membuat pasar global memasuki fase yang sensitif.
Jika sinyal dovish The Fed menguat dan konflik Timur Tengah mereda, tekanan terhadap dolar bisa berlanjut.
Namun bila risiko energi melonjak atau bank sentral utama mengambil sikap lebih hawkish, arah pasar bisa berubah cepat.
Untuk saat ini, satu hal mulai terbaca: dolar kehilangan momentumnya, dan pasar mulai bersiap menghadapi kemungkinan era suku bunga yang lebih rendah. (*)