Home Kurs Dolar AS Melemah, Sinyal The Fed Berubah? Pasar Mulai Bersiap untuk Era Suku Bunga Lebih Rendah
Kurs

Dolar AS Melemah, Sinyal The Fed Berubah? Pasar Mulai Bersiap untuk Era Suku Bunga Lebih Rendah

Bagikan
Dolar AS kehilangan tenaga usai sinyal dovish menguat, pasar mulai berspekulasi soal pemangkasan suku bunga The Fed.
Ilustrasi - Mata Uang Dolar AS (Pexels - Atlantic Ambience)
Bagikan

Sentimen geopolitik juga ikut memainkan peran besar.

Dolar kembali tertekan setelah muncul optimisme pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran bisa kembali dibuka.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dijadwalkan berada di Islamabad untuk membahas proposal pembukaan kembali dialog dengan Washington.

Di saat yang sama, Presiden Donald Trump disebut berencana mengirim utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner untuk bertemu Araqchi, meski waktu pertemuan belum dipastikan.

Harapan meredanya konflik ikut mengurangi permintaan terhadap dolar sebagai aset aman.

Namun pasar belum sepenuhnya berani mengambil posisi besar.

Lou Brien, ahli strategi DRW Trading Chicago, menilai ketidakpastian masih terlalu tinggi.

“Saat ini sulit mengambil posisi karena kita tidak tahu arah situasi ini,” katanya.

Menurut Brien, tanpa deklarasi damai yang jelas, pasar kemungkinan akan bergerak menunggu dampak nyata, terutama jika perang memicu gangguan energi global.

Pasar Menanti Pekan Sibuk Bank Sentral Dunia

Perhatian investor kini juga mengarah ke agenda besar pekan depan saat sejumlah bank sentral utama mengumumkan kebijakan.

Federal Reserve, Bank of Japan, Bank Sentral Eropa, dan Bank of England akan menjadi sorotan utama.

Pasar mulai menilai fase berikutnya tak lagi hanya soal perang Iran, melainkan divergensi kebijakan moneter global.

Buffam menilai tema itu berpotensi menjadi penggerak baru pasar.

“Ke depan, fokus pasar akan beralih dari perang Iran ke divergensi kebijakan bank sentral, di mana The Fed kemungkinan melonggarkan kebijakan, sementara bank sentral lain justru menaikkan suku bunga,” ujarnya.

The Fed diperkirakan menahan suku bunga pada pertemuan mendatang, di tengah risiko inflasi dari konflik Timur Tengah dan ekonomi AS yang masih relatif kuat.

Namun perhatian investor justru tertuju pada sinyal lanjutan apakah pemangkasan bunga mulai mendekat.

Eropa dan Jepang Bisa Jadi Penentu Arah Berikutnya

Dinamika tak hanya datang dari Amerika.

Bank Sentral Eropa diperkirakan mempertahankan suku bunga deposito pada 30 April, namun lebih dari separuh ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan kenaikan pada Juni.

Bagikan
Artikel Terkait
Kurs

Dolar AS Melaju Kuat: Picunya, Ketegangan di Timteng dan Kebuntuan Perundingan AS-Iran

“Minyak dan dolar masih bergerak cukup dekat bersama, dan dengan minyak mentah...

Bitcoin ETF
Kurs

Harga Bitcoin Melejit ke 79.500 Dolar AS, Ternyata Ini Faktor Penentunya

finnews.id – Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan performa impresif dengan mendekati level...

Kurs

Butuh Modal Usaha? Cek Syarat Terbaru KUR BRI 2026 dengan Plafon hingga Rp500 Juta

Selain itu, Anda perlu menyiapkan dokumen administrasi standar seperti KTP, Kartu Keluarga...

Kurs

Rupiah Terperosok ke Rp17.300, Efek Gagalnya Diplomasi AS-Iran dan Harga Minyak

Masalah kian pelik karena utang pemerintah yang jatuh tempo dalam jumlah besar...