finnews.id – Pasar mata uang dunia kembali bergejolak di penghujung pekan ini. Dolar AS diperkirakan menguat mingguan untuk pertama kalinya dalam tiga pekan terakhir.
Fenomena ini terjadi akibat mandeknya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang seketika memupus harapan pelaku pasar akan meredanya konflik di Timur Tengah dalam waktu dekat.
Meskipun Lebanon dan Israel baru saja menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama tiga minggu, situasi di kawasan tersebut masih jauh dari kata stabil.
Iran baru-baru ini menunjukkan taringnya dengan merilis video pasukan komando yang menyerbu kapal kargo besar di Selat Hormuz.
Aksi ini memicu ketidakpastian mengenai kapan koridor pelayaran vital tersebut akan dibuka kembali, yang otomatis menjaga harga minyak tetap berada di level tinggi.
Pergerakan Indeks Dolar dan Mata Uang Utama
Hingga Jumat ini, indeks dolar—yang membandingkan greenback terhadap mata uang utama seperti Euro dan Yen—memang sempat turun tipis 0,1 persen ke angka 98,75. Namun, secara keseluruhan, dolar tetap berada di jalur kenaikan mingguan sebesar 0,5 persen.
Beberapa mata uang lain menunjukkan pergerakan tipis:
-
Euro: Mengalami kenaikan 0,1 persen menjadi $1,169.
-
Poundsterling: Naik tipis 0,1 persen, meski data penjualan ritel Inggris bulan Maret yang kuat tidak terlalu mengguncang pasar.
-
Yen Jepang: Mulai stabil setelah melemah selama empat hari, kini berada di angka 159,7 per dolar.
Tommy Von Brömsen, seorang ahli strategi FX di Handelsbanken, memberikan catatan penting mengenai kondisi ini.
“Jika Anda melihat minggu lalu, tema utamanya adalah tidak adanya kemajuan nyata dalam perundingan perdamaian. Bagi pasar, ini sulit ketika tidak ada tenggat waktu,” katanya.
Hubungan Erat Harga Minyak dan Permintaan Safe Haven
Ketidakpastian global sering kali membuat investor berlari ke arah aset yang aman (safe haven), dan dolar AS menjadi pilihan utama. Harga minyak mentah Brent sendiri terpantau naik 1,5 persen ke level $106,60 per barel.
Analis pasar di Matsui Securities, Sho Suzuki, mengamati bahwa pergerakan dolar masih sangat selaras dengan harga energi.