finnews.id – Pasar global kembali menghadapi situasi pelik pada pembukaan pekan ini. Harga minyak melonjak dan nilai saham berjangka mengalami tekanan hebat pada Senin, 20 April 2026.
Kondisi ini terjadi karena eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang menghambat arus logistik di jalur perdagangan vital. Meski demikian, para investor masih menaruh harapan pada resolusi damai, yang terlihat dari performa bursa saham di beberapa wilayah Asia.
Lonjakan Harga Energi dan Reaksi Pasar Saham
Akibat ketidakpastian situasi, harga minyak mentah Brent meroket sekitar 6 persen hingga menyentuh angka US$95,36 per barel. Lonjakan ini berdampak langsung pada indeks S&P 500 berjangka yang merosot 0,6 persen, sementara pasar Eropa berjangka jatuh lebih dalam sebesar 1,2 persen.
Menariknya, bursa saham di Seoul, Taipei, dan Tokyo justru menunjukkan ketangguhan. Saham Taiwan bahkan mencetak rekor tertinggi baru. Damien Boey, ahli strategi portofolio di Wilson Asset Management, menilai bahwa meskipun berita utama terlihat mengkhawatirkan, pasar tetap optimis.
“Judul berita terlihat buruk; tampaknya ada ketidaksepakatan… yang telah menyebabkan sedikit peningkatan ketegangan. Tetapi saya pikir, pada akhirnya, kedua belah pihak ingin dapat mencapai kesepakatan – itulah sebagian alasan mengapa pasar optimis dan tidak terlalu banyak mengalami penurunan.”
Selat Hormuz Jadi Barometer Utama Risiko Global
Pusat perhatian dunia kini tertuju pada Selat Hormuz. Iran kembali memberlakukan penutupan secara de facto di jalur sempit tersebut. Padahal, data Kpler menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi pada hari Sabtu sebelumnya dengan lebih dari 20 kapal pengangkut minyak, gas, dan pupuk yang melintas.
Status gencatan senjata yang seharusnya berakhir pada hari Selasa kini terancam gagal. Pemicunya adalah aksi Amerika Serikat yang menyita kapal kargo milik Iran, yang kemudian memicu ancaman balasan dari militer Teheran.
Bob Savage dari BNY menegaskan bahwa jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz kini menjadi indikator tunggal yang paling krusial bagi risiko geopolitik global.
Dampak Nyata pada Sektor Perbankan dan Diplomasi
Krisis ini mulai memakan korban di sektor riil. National Australia Bank (NAB), salah satu pemberi pinjaman bisnis terbesar di Australia, mengumumkan kerugian aset sebesar USD500 juta. Mereka memprediksi perang akan meningkatkan jumlah kredit macet, yang mengakibatkan saham NAB anjlok 3,6 persen.
Di sisi lain, upaya perundingan damai masih menemui jalan buntu. Iran secara tegas menolak dialog baru dengan AS setelah Presiden Donald Trump memberikan ultimatum. Trump menyatakan akan meluncurkan serangan baru kecuali Iran menerima persyaratannya.
Meskipun tensi memanas, beberapa analis seperti Paul Chew dari Phillip Securities Singapura berpendapat bahwa penyelesaian perang tetap menjadi skenario utama karena fokus politik domestik AS.
“Skenario dasar kami (alias tebakan) masih penyelesaian perang. Trump masih fokus pada pemilihan paruh waktu November.”
Fokus Investor Sepekan ke Depan
Selain memantau konflik di Timur Tengah, pelaku pasar juga menunggu rilis data ekonomi penting lainnya minggu ini, termasuk:
-
Laporan pendapatan kuartal pertama Wall Street.
-
Data inflasi Inggris dan angka penjualan ritel Amerika Serikat.
-
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Eropa.
Saat ini, nilai tukar Dolar AS terpantau stabil di angka 158,8 yen. Namun, selama ancaman terhadap pasokan minyak di Teluk Persia belum mereda, inflasi global tetap menjadi momok yang menakutkan bagi para pelaku ekonomi.