Dampak Nyata pada Sektor Perbankan dan Diplomasi
Krisis ini mulai memakan korban di sektor riil. National Australia Bank (NAB), salah satu pemberi pinjaman bisnis terbesar di Australia, mengumumkan kerugian aset sebesar USD500 juta. Mereka memprediksi perang akan meningkatkan jumlah kredit macet, yang mengakibatkan saham NAB anjlok 3,6 persen.
Di sisi lain, upaya perundingan damai masih menemui jalan buntu. Iran secara tegas menolak dialog baru dengan AS setelah Presiden Donald Trump memberikan ultimatum. Trump menyatakan akan meluncurkan serangan baru kecuali Iran menerima persyaratannya.
Meskipun tensi memanas, beberapa analis seperti Paul Chew dari Phillip Securities Singapura berpendapat bahwa penyelesaian perang tetap menjadi skenario utama karena fokus politik domestik AS.
“Skenario dasar kami (alias tebakan) masih penyelesaian perang. Trump masih fokus pada pemilihan paruh waktu November.”
Fokus Investor Sepekan ke Depan
Selain memantau konflik di Timur Tengah, pelaku pasar juga menunggu rilis data ekonomi penting lainnya minggu ini, termasuk:
-
Laporan pendapatan kuartal pertama Wall Street.
-
Data inflasi Inggris dan angka penjualan ritel Amerika Serikat.
-
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Eropa.
Saat ini, nilai tukar Dolar AS terpantau stabil di angka 158,8 yen. Namun, selama ancaman terhadap pasokan minyak di Teluk Persia belum mereda, inflasi global tetap menjadi momok yang menakutkan bagi para pelaku ekonomi.