Home Market Rupiah Terkapar di Level Rp17.312, Terburuk di Asia Akibat Geopolitik Global
Market

Rupiah Terkapar di Level Rp17.312, Terburuk di Asia Akibat Geopolitik Global

Bagikan
Bagikan

finnews.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hebat hingga menembus rekor terlemah baru pada April 2026. Mata uang Garuda kini kian terpuruk ke posisi Rp17.312 per dolar AS. Catatan ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.

Pelemahan tajam ini merupakan akumulasi dari sentimen global yang memburuk serta tantangan domestik yang kian berat. Indonesia menghadapi tekanan besar, terutama terkait ketergantungan tinggi pada impor energi di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.

Pergerakan kurs rupiah sepanjang awal tahun 2026 sebenarnya sudah menunjukkan volatilitas yang konsisten. Pada Januari 2026, rupiah masih bergerak di rentang Rp16.900 hingga Rp16.935. Memasuki Februari, kurs sempat menguat tipis pada kisaran Rp16.800 hingga Rp16.950.

Namun, memasuki Maret 2026, tekanan mulai meningkat hingga menyentuh level psikologis Rp17.000. Puncaknya terjadi pada April ini, di mana nilai tukar melonjak drastis ke angka Rp17.300-an. Melansir data Trading Economics, penguatan indeks dolar AS (DXY) memang menekan mata uang pasar negara berkembang. Namun, depresiasi rupiah tercatat jauh lebih dalam dibandingkan mata uang negara tetangga di Asia Tenggara.

Ketidakpastian akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Ketegangan di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz yang merupakan nadi pasokan minyak dunia. Gagalnya perundingan diplomatik memperbesar risiko keamanan, sehingga investor memilih mengalihkan aset mereka ke dolar AS sebagai safe haven.

Kondisi ini langsung melambungkan harga minyak dunia. Indonesia, sebagai negara importir minyak, terkena dampak telak. Dengan kebutuhan nasional mencapai 2,1 juta barel per hari sementara impor menyentuh 1,5 juta barel, beban devisa negara membengkak drastis. Kenaikan harga komoditas ini menguras cadangan dolar untuk membiayai kebutuhan energi domestik.

Risiko Fiskal dan Intervensi Bank Indonesia

Bagikan
Written by
Ari Nur Cahyo

Penulis di FIN Corp sejak Maret 2022 yang fokus mengeksplorasi dunia Teknologi, Sepak Bola, dan Anime. Memiliki ketertarikan kuat pada isu-isu viral, ia berkomitmen menghadirkan konten yang segar, informatif, dan relevan dengan tren masa kini.

Artikel Terkait
Market

Ini Dampak Penerapan Strategi DMO Minyak Goreng pada Harga di Pasaran

finnews.id – Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang diterapkan pemerintah terbukti mulai...

Ringkasan Bursa 24 April 2026: IHSG jatuh 3,38%, asing net sell Rp2 triliun, BBCA hingga BMRI ditekan jual besar.
Market

Ringkasan Bursa 24 April 2026: IHSG Ambruk 3,38 Persen, Asing Kabur Rp2 Triliun, Saham Big Caps Dihantam Aksi Jual

finnews.id – Perdagangan penutup pekan menghadirkan tekanan besar di pasar modal domestik....

AMRT dan MAPI diproyeksi solid pada kuartal I-2026, sementara ACES berisiko di bawah ekspektasi. Harga minyak jadi ancaman baru sektor ritel.
Market

Saham Ritel Berpotensi Bergerak, Kinerja AMRT dan MAPI Diprediksi Solid, ACES Justru di Bawah Ekspektasi

finnews.id – Sektor ritel konsumsi non-primer mulai memunculkan sinyal menarik pada kuartal...

Rupiah masih tertekan dekat rekor terendah, sementara IHSG ambruk 5,5% sepekan saat mayoritas pasar Asia emerging market melemah.
Market

Rupiah Tertahan di Zona Rentan, IHSG Ambruk 5,5 Persen Sepekan saat Pasar Asia Emerging Market Tertekan

finnews.id – Tekanan di pasar keuangan Asia kembali memanas. Mayoritas mata uang...