finnews.id – Pemerintah resmi memberikan stimulus besar bagi industri dengan memangkas bea masuk impor liquefied petroleum gas (LPG) dari 5 persen menjadi 0 persen. Kebijakan ini menjadi angin segar bagi sektor petrokimia yang tengah tertekan akibat krisis pasokan bahan baku global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, langkah ini diambil untuk membantu industri petrokimia yang kesulitan memperoleh nafta, terutama akibat gangguan pasokan di kawasan Selat Hormuz.
“Penurunan bea masuk LPG ini merupakan intervensi kebijakan untuk mendukung industri petrokimia yang terdampak krisis pasokan bahan baku,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta.
Industri petrokimia memiliki peran vital dalam rantai produksi nasional, terutama sebagai penghasil bahan baku plastik yang digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari kemasan makanan hingga kebutuhan industri lainnya.
Namun, krisis global yang mengganggu distribusi nafta membuat industri kesulitan menjaga stabilitas produksi. Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah mendorong penggunaan LPG sebagai bahan baku alternatif.
Langkah ini diharapkan dapat menjaga keberlangsungan produksi sekaligus menekan potensi lonjakan harga barang, khususnya produk makanan dan minuman yang bergantung pada kemasan plastik.
Tunggu Aturan Teknis
Kebijakan pembebasan bea masuk LPG ini akan berlaku selama enam bulan. Saat ini, pemerintah tengah menyiapkan aturan teknis melalui Peraturan Menteri Perindustrian dan Peraturan Menteri Keuangan agar kebijakan dapat segera diimplementasikan.
Selain itu, pemerintah juga terus mencari sumber alternatif nafta sebagai solusi jangka panjang melalui koordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengambil langkah ini. Sejumlah negara, termasuk India, juga telah lebih dulu memberikan insentif serupa untuk menjaga stabilitas biaya produksi industri petrokimia.
Dengan kebijakan ini, pemerintah berharap industri tetap kompetitif di tengah tekanan global sekaligus menjaga stabilitas harga di pasar domestik.