Home Market Harga Minyak Melonjak 3 Persen, Selat Hormuz Terganggu dan Konflik Memanas, Pasar Global Siaga
Market

Harga Minyak Melonjak 3 Persen, Selat Hormuz Terganggu dan Konflik Memanas, Pasar Global Siaga

Bagikan
Harga minyak melonjak 3 persen dipicu konflik AS-Iran dan gangguan Selat Hormuz. Pasar waspadai inflasi global dan ancaman kenaikan suku bunga.
Ilustrasi
Bagikan

finnews.id – Lonjakan harga minyak kembali mengguncang pasar global. Di tengah mandeknya diplomasi Amerika Serikat-Iran dan terganggunya jalur energi strategis Selat Hormuz, harga minyak melonjak sekitar 3 persen dan menembus level tertinggi dalam dua pekan. Situasi ini memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global, arah suku bunga, hingga stabilitas pasokan energi dunia.

Sentimen pasar langsung bereaksi keras. Minyak mentah Brent sebagai patokan internasional ditutup melesat US$2,90 atau 2,8 persen ke US$108,23 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,97 atau 2,1 persen menjadi US$96,37 per barel.

Kenaikan ini menandai reli enam hari beruntun untuk Brent, yang menjadi penguatan terpanjang sejak Maret 2025. Bahkan, level penutupan tersebut tercatat sebagai yang tertinggi sejak 7 April, sementara WTI menyentuh posisi terkuat sejak 13 April.

Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama Harga Minyak Naik

Pemicu utama reli minyak kali ini datang dari kombinasi risiko geopolitik dan tekanan pasokan. Pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran belum menghasilkan titik temu. Di saat yang sama, lalu lintas energi di Selat Hormuz turun drastis.

Data pelayaran menunjukkan hanya tujuh kapal melintas di jalur itu dalam 24 jam terakhir. Angka ini anjlok tajam dibanding rata-rata 140 pelayaran harian sebelum perang Iran pecah pada 28 Februari. Padahal, sekitar 20 persen pasokan minyak global selama ini mengalir melalui rute tersebut.

Situasi makin rumit setelah enam tanker bermuatan minyak Iran dilaporkan terpaksa berbalik akibat blokade Amerika Serikat. Hambatan distribusi ini mempersempit suplai dan langsung mengangkat premi risiko di pasar energi.

Analis PVM Oil Associates Tamas Varga menilai kebuntuan diplomatik telah menahan 10 juta hingga 13 juta barel minyak per hari keluar ke pasar global.

“Kondisi ini berpotensi terus mendorong harga lebih tinggi,” demikian pandangan Varga yang dikutip dalam laporan pasar.

Optimisme Pasokan Memudar, Brent dan WTI Berpotensi Naik Lagi

Pasar juga mencermati pelebaran spread antara Brent dan WTI. Direktur Energi Mizuho Bob Yawger melihat selisih harga yang semakin lebar dapat menarik pembeli menuju kawasan Teluk Meksiko dan mendorong ekspor minyak mentah Amerika Serikat ke rekor baru.

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Harga Pangan Meledak! Cabai Rawit Tembus Rp165 Ribu/Kg, Telur Ikut Meroket

finnews.id – Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat...

Wall Street menguat, asing jual Rp40,9 triliun di saham bank RI. PGAS, DSNG hingga rencana akuisisi BUMI jadi perhatian investor
Market

Bursa Pagi: Wall Street Menguat, Asing Jual Rp40,9 Triliun di Big Bank RI, PGAS hingga BUMI Jadi Sorotan

finnews.id – Sentimen pasar global bergerak kontras pada awal pekan. Di satu...

Market

Hadapi Ketidakpastian Ekonomi, CIMB Niaga Perkuat Ketahanan Lewat Stress Test

finnews.id – Industri perbankan nasional masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global dan domestik....

PGAS catat laba kuartal I 2026 naik 46%, target harga saham dinaikkan ke Rp2.100 dan rekomendasi buy menguat di tengah spread gas tinggi.
Market

PGAS Bikin Kejutan! Laba Melonjak 46 Persen, Target Harga Naik ke Rp2.100, Sinyal Buy Menguat

finnews.id – Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) kembali mencuri perhatian...