Home Market Harga Minyak Melonjak 3 Persen, Selat Hormuz Terganggu dan Konflik Memanas, Pasar Global Siaga
Market

Harga Minyak Melonjak 3 Persen, Selat Hormuz Terganggu dan Konflik Memanas, Pasar Global Siaga

Bagikan
Harga minyak melonjak 3 persen dipicu konflik AS-Iran dan gangguan Selat Hormuz. Pasar waspadai inflasi global dan ancaman kenaikan suku bunga.
Ilustrasi
Bagikan

Artinya, pasar tidak lagi sekadar bereaksi terhadap perang, tetapi mulai menghitung ulang keseimbangan suplai global.

Goldman Sachs bahkan menaikkan proyeksi harga kuartal IV menjadi US$90 per barel untuk Brent dan US$83 untuk WTI. Revisi itu muncul karena produksi Timur Tengah dinilai berpotensi menurun di tengah konflik yang belum mereda.

Analis Goldman yang dipimpin Daan Struyven memperingatkan risiko ekonomi kini lebih besar dari perkiraan dasar, terutama karena kombinasi kenaikan harga minyak, tingginya harga produk olahan, dan ancaman kelangkaan pasokan.

Inflasi Global Terancam Bangkit, Suku Bunga Bisa Bergerak

Kenaikan minyak biasanya cepat merembet ke inflasi. Kekhawatiran itu kini kembali mencuat. Pelaku pasar menilai tekanan harga energi dapat mempersulit langkah bank sentral yang sedang menimbang arah suku bunga.

European Central Bank dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pekan ini. Fokus pasar tertuju pada kemungkinan respons ECB jika harga energi tetap tinggi.

Jika inflasi kembali panas, ruang pemangkasan suku bunga bisa mengecil. Bahkan, risiko pengetatan kebijakan kembali terbuka.

Inilah yang membuat reli minyak tidak lagi hanya isu komoditas, tetapi sudah berubah menjadi isu makroekonomi global.

Pasar Cemas, Produk Energi Ikut Meroket

Lonjakan tidak hanya terjadi pada minyak mentah. Kontrak bensin di pasar Amerika ditutup di level tertinggi sejak Juli 2022 untuk hari keempat berturut-turut.

Margin keuntungan kilang juga naik ke posisi tertinggi sejak periode yang sama. Ini menandakan tekanan bukan hanya di hulu, tetapi sudah merambat ke rantai energi yang lebih luas.

Pasar kini mengantisipasi apakah gangguan di Selat Hormuz akan berlangsung lebih lama. Jika jalur itu tetap tersendat, risiko shock energi dinilai makin nyata.

Geopolitik Belum Reda, Risiko Harga Minyak Masih Membara

Di luar Iran, ketegangan kawasan juga belum surut. Gencatan senjata Israel-Lebanon dinilai rapuh, sementara operasi militer masih berlangsung. Rusia pun memberi dukungan politik kepada Iran, menambah dimensi baru dalam konflik.

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Harga Pangan Meledak! Cabai Rawit Tembus Rp165 Ribu/Kg, Telur Ikut Meroket

finnews.id – Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat...

Wall Street menguat, asing jual Rp40,9 triliun di saham bank RI. PGAS, DSNG hingga rencana akuisisi BUMI jadi perhatian investor
Market

Bursa Pagi: Wall Street Menguat, Asing Jual Rp40,9 Triliun di Big Bank RI, PGAS hingga BUMI Jadi Sorotan

Sebaliknya, negara Asia Utara yang menjadi pusat rantai pasok semikonduktor global justru...

Market

Maskapai T’way Air Buka Rute Langsung Jakarta – Incheon Mulai 29 April 2026

finnews.id – Maskapai berbiaya rendah asal Korea Selatan, T’way Air, resmi memperluas...

Market

Hadapi Ketidakpastian Ekonomi, CIMB Niaga Perkuat Ketahanan Lewat Stress Test

finnews.id – Industri perbankan nasional masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global dan domestik....