finnews.id – Harga minyak dunia membuka pekan dengan lonjakan tajam setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Gangguan di Selat Hormuz dan mandeknya pembicaraan damai Amerika Serikat dengan Iran mendorong pasar energi global masuk fase waspada.
Pada awal perdagangan Senin, harga minyak melonjak lebih dari 2 persen. Lonjakan ini memicu kekhawatiran baru soal pasokan energi global, terutama karena Selat Hormuz menjadi jalur strategis yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Kondisi itu langsung memantik reaksi pasar. Pelaku investasi, trader komoditas, hingga sektor industri energi kini mencermati risiko yang lebih besar: harga minyak berpotensi bertahan tinggi lebih lama jika ketegangan tidak mereda.
Harga Minyak Brent Tembus USD107, Pasar Bereaksi Cepat
Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, melesat USD2,22 atau 2,11 persen ke level USD107,55 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ikut naik USD2,02 atau 2,14 persen ke posisi USD96,42 per barel.
Kenaikan ini menunjukkan premi risiko geopolitik kembali membesar. Pasar tidak hanya merespons gangguan fisik pasokan, tetapi juga menghitung kemungkinan konflik yang lebih panjang di kawasan Teluk.
Ketika jalur distribusi strategis terganggu, pasar biasanya bereaksi lebih cepat daripada fundamental pasokan itu sendiri. Itu sebabnya lonjakan harga terjadi bahkan sebelum ada perubahan besar pada volume produksi global.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas, Pasokan Global Terancam Ketat
Sorotan utama pasar saat ini mengarah ke Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini memegang posisi vital dalam perdagangan energi dunia. Ketika distribusi di titik ini tersendat, dampaknya langsung terasa terhadap sentimen minyak global.
Gangguan pengiriman melalui Hormuz membuat kekhawatiran pasokan kembali mencuat. Di saat pasar sebelumnya berharap jalur logistik kembali normal, situasi terbaru justru memunculkan risiko pengetatan suplai.
Ini bukan sekadar isu regional. Ketika arteri utama energi dunia mengalami tekanan, negara pengimpor besar hingga industri manufaktur global ikut menghadapi potensi biaya energi lebih mahal.
Kebuntuan AS-Iran Picu Volatilitas Baru
Lonjakan harga minyak kali ini juga dipicu mandeknya perundingan damai antara Washington dan Teheran. Harapan pasar sebelumnya cukup tinggi bahwa jalur diplomasi dapat meredakan konflik dan memulihkan distribusi energi.