Home Market Harga Minyak Meledak Usai Hormuz Terganggu, Kebuntuan AS-Iran Bikin Pasar Global Siaga
Market

Harga Minyak Meledak Usai Hormuz Terganggu, Kebuntuan AS-Iran Bikin Pasar Global Siaga

Bagikan
Harga minyak melonjak usai Selat Hormuz terganggu dan pembicaraan AS-Iran buntu. Brent tembus USD107, pasar waspadai pasokan global.
Ilustrasi - Platform minyak lepas pantai (Pexels - Jan-Rune Smenes Reite)
Bagikan

Namun kegagalan mencapai titik temu justru membalik sentimen. Kekhawatiran bahwa gangguan pasokan bisa berlangsung lebih lama kini kembali mendominasi pasar.

Pelaku pasar membaca kebuntuan ini sebagai sinyal risiko yang belum selesai. Selama belum ada solusi diplomatik, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi.

Kenapa Harga Minyak Bisa Bertahan Tinggi?

Sejumlah faktor membuat harga minyak berpotensi sulit turun cepat. Pertama, gangguan logistik di kawasan Timur Tengah mempersempit ruang pasokan.

Kedua, pembatasan ekspor dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik mendorong pasar memasukkan faktor risiko lebih besar ke harga komoditas energi.

Ketiga, selama belum ada kepastian dari jalur diplomasi AS-Iran, pelaku pasar cenderung mempertahankan posisi defensif, yang biasanya menopang harga tetap tinggi.

Analis juga melihat lonjakan ini bukan semata reaksi sesaat, melainkan refleksi dari ketegangan struktural yang bisa berdampak lebih panjang terhadap pasar energi.

Dampaknya Bisa Menjalar ke Inflasi dan Pasar Keuangan

Kenaikan harga minyak tidak berhenti di pasar komoditas. Dampaknya bisa merembet ke inflasi, biaya logistik, harga bahan bakar, hingga sentimen pasar keuangan global.

Ketika minyak mahal, biaya produksi dan distribusi ikut naik. Kondisi itu dapat menekan sektor industri dan memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi global.

Tak heran, lonjakan harga minyak kerap diikuti kehati-hatian investor di aset berisiko, termasuk saham dan emerging market.

Pasar Kini Menunggu Arah Konflik Berikutnya

Fokus pasar kini tertuju pada dua hal: perkembangan hubungan AS-Iran dan kondisi distribusi di Selat Hormuz. Dua faktor ini dipandang menjadi penentu arah harga minyak dalam waktu dekat.

Jika ketegangan meningkat dan distribusi energi makin terganggu, ruang kenaikan harga masih terbuka. Sebaliknya, jika jalur diplomasi bergerak positif, tekanan harga bisa mereda.

Untuk saat ini, pasar tampaknya memilih bersikap siaga. Dan itu menjelaskan kenapa minyak kembali melesat tajam di awal pekan.

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Garuda Indonesia Online Travel Fair 2026 Hadir, Ini Daftar Harga Tiket Murahnya !!

finnews.id – Maskapai Garuda Indonesia menggelar program andalannya, secara resmi membuka Garuda...

IHSG oversold usai anjlok 6,61%. IPOT bongkar 4 rekomendasi saham dan ETF yang dinilai berpeluang rebound di tengah volatilitas.
Market

IHSG Oversold, Jangan Panik! IPOT Bongkar 4 Saham dan ETF yang Dinilai Siap Rebound

Entry: 805 Target: 900 Stop Loss: 765 2. ESSA ESSA disebut menarik...

Market

Leapmotor C10, SUV Listrik Keluarga Canggih dengan Jarak Tempuh 477 Km

finnews.id – PT Indomobil National Distributor berencana menghadirkan SUV listrik ukuran menengah, Leapmotor...

Bursa Pagi 27 April 2026 dibayangi Hormuz memanas, minyak di atas US$100, rebalancing indeks dan tekanan saham big cap di BEI.
Market

Bursa Pagi 27 April 2026: Hormuz Memanas, IHSG Dibayangi Sell-Off, Ini Saham dan Sentimen yang Jadi Sorotan

Pekan ini perhatian investor tertuju pada keputusan suku bunga Bank of Japan,...