Home Market Harga CPO Tergelincir Dua Hari, Tembus Level Psikologis 4.500 Ringgit, Ada Sinyal Rebound?
Market

Harga CPO Tergelincir Dua Hari, Tembus Level Psikologis 4.500 Ringgit, Ada Sinyal Rebound?

Bagikan
harga CPO Malaysia turun dua hari berturut turut, penyebab harga sawit melemah hari ini, analisis level psikologis 4500 ringgit CPO, dampak ekspor Malaysia terhadap harga sawit, pengaruh harga minyak mentah terhadap biodiesel sawit, proyeksi rebound harga crude palm oil, produksi sawit Indonesia 2026 terhadap pasar global, outlook harga minyak sawit Malaysia terbaru
Ilustrasi
Bagikan

finnews.id – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali melemah dan mencatat penurunan dua sesi beruntun. Tekanan datang dari kombinasi pelemahan pasar ekspor, koreksi harga palm olein di China, serta penguatan ringgit yang membuat komoditas ini makin mahal bagi pembeli global.

Pada perdagangan Selasa (28/4/2026), kontrak acuan minyak sawit pengiriman Juli di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 36 ringgit atau 0,79% menjadi 4.498 ringgit per metrik ton. Pelemahan ini melanjutkan penurunan sesi sebelumnya yang mencapai 1,37%.

Yang menarik perhatian pasar, kontrak acuan bahkan menembus level psikologis penting 4.500 ringgit. Level ini selama ini menjadi batas yang dipantau pelaku pasar. Ketika harga turun ke bawah area tersebut, tekanan jual baru langsung muncul dan sempat mendorong harga intraday ke 4.482 ringgit.

Tekanan ini membuat pasar mulai mencermati apakah pelemahan CPO hanya koreksi sementara atau sinyal tekanan yang lebih dalam.

Harga Palm Olein China Tekan Sentimen Sawit

Salah satu pemicu pelemahan datang dari pasar Dalian, China. Kontrak minyak sawit di bursa tersebut merosot 0,95%, sementara kontrak minyak kedelai aktif turun 0,16%.

Pergerakan ini penting karena harga sawit secara tradisional mengikuti arah minyak nabati pesaingnya, terutama untuk memperebutkan pangsa pasar global. Saat harga minyak pesaing melemah, sentimen terhadap CPO ikut tertekan.

Di tengah tekanan itu, pasar Chicago justru menunjukkan arah berbeda. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik tipis 0,06%, memberi sedikit bantalan sentimen meski belum cukup kuat mengangkat harga sawit.

Ringgit Menguat, Ekspor Sawit Makin Tertekan

Faktor lain yang menekan harga datang dari penguatan mata uang Malaysia. Ringgit naik 0,08% terhadap dolar AS.

Bagi pasar ekspor, kondisi ini membuat minyak sawit Malaysia menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Efeknya, daya saing ekspor ikut tertekan di tengah permintaan global yang belum solid.

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Kabar Baik untuk Industri! Bea Masuk Impor LPG Digratiskan

finnews.id – Pemerintah resmi memberikan stimulus besar bagi industri dengan memangkas bea...

Market

Kabar Baik! Pajak Kendaraan Listrik Ditunda, Pemilik EV Bisa Bernapas Lega

finnews.id – Kabar menggembirakan datang bagi pemilik kendaraan listrik di Jawa Barat....

ANTM mencetak laba bersih Rp3,4 triliun di kuartal I 2026, melonjak 59%. Pendapatan, aset, dan ekuitas ikut menguat.
Market

Laba ANTM Melonjak 59 Persen, Tembus Rp3,4 Triliun di Awal 2026, Kinerja Emiten Tambang Ini Makin Panas

finnews.id – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membuka 2026 dengan lonjakan kinerja...

IHSG turun ke 7.095 pada sesi I, sembilan sektor melemah. Energi dan industri jadi penahan saat tekanan pasar meluas
Market

IHSG Terseret Zona Merah, 9 Sektor Melemah Saat Energi dan Industri Bertahan Hijau

finnews.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan setelah...