Home Market Harga CPO Tergelincir Dua Hari, Tembus Level Psikologis 4.500 Ringgit, Ada Sinyal Rebound?
Market

Harga CPO Tergelincir Dua Hari, Tembus Level Psikologis 4.500 Ringgit, Ada Sinyal Rebound?

Bagikan
harga CPO Malaysia turun dua hari berturut turut, penyebab harga sawit melemah hari ini, analisis level psikologis 4500 ringgit CPO, dampak ekspor Malaysia terhadap harga sawit, pengaruh harga minyak mentah terhadap biodiesel sawit, proyeksi rebound harga crude palm oil, produksi sawit Indonesia 2026 terhadap pasar global, outlook harga minyak sawit Malaysia terbaru
Ilustrasi
Bagikan

Tekanan itu terlihat dari survei kargo yang menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia periode 1-25 April turun antara 15,7% hingga 16,8% dibanding bulan sebelumnya.

Penurunan ekspor ini menjadi salah satu sentimen utama yang membebani pasar, karena perlambatan permintaan eksternal sering menjadi indikator penting arah harga CPO berikutnya.

Minyak Mentah Naik, Ada Harapan untuk Biodiesel

Meski harga sawit melemah, ada faktor yang berpotensi menjadi penopang.

Harga minyak mentah melonjak 1% dan melanjutkan penguatan sesi sebelumnya, seiring belum adanya kepastian penyelesaian perang Amerika-Iran. Selat Hormuz yang masih sebagian besar tertutup ikut menjaga kekhawatiran soal pasokan energi global.

Kenaikan harga minyak mentah membuat CPO lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel. Sentimen ini dinilai bisa memberi support bagi harga sawit jika tren energi bertahan naik.

Pasar kini melihat hubungan antara harga energi dan biodiesel sebagai salah satu katalis yang bisa menahan pelemahan lebih lanjut.

Produksi Indonesia Naik Tajam, Pasokan Jadi Sorotan

Dari sisi fundamental, perhatian pasar juga mengarah ke proyeksi pasokan.

Agrinas Palma Nusantara memperkirakan produksi minyak sawit mentah Indonesia pada 2026 mencapai sekitar 2 juta ton. Angka ini hampir dua kali lipat dibanding proyeksi sebelumnya sebesar 1,07 juta ton.

Kenaikan produksi ini bisa menjadi faktor penekan tambahan bila permintaan ekspor belum pulih. Pasar biasanya sensitif terhadap kombinasi pasokan meningkat dan ekspor melemah.

Karena itu, proyeksi output Indonesia kini ikut menjadi variabel penting yang diperhatikan pelaku komoditas.

Masih Ada Peluang Rebound Moderat

Meski tren jangka pendek masih tertekan, pasar belum menutup peluang pemulihan.

Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao melihat harga berpotensi rebound moderat menuju 4.584 ringgit per ton sebelum kembali menguji support di 4.517 ringgit.

Level ini kini menjadi area penting yang dipantau investor. Jika support bertahan, peluang technical rebound terbuka. Namun jika tekanan jual berlanjut, pasar bisa kembali menguji area bawah.

Bagikan
Artikel Terkait
Yamaha EC-06
Market

Subsidi Motor Listrik 2026 Masih Digodok, Pemerintah Siapkan Skema Rp5 Juta per Unit

Jika terealisasi, program ini diprediksi akan menjadi salah satu pendorong utama percepatan...

Market

Kabar Baik untuk Industri! Bea Masuk Impor LPG Digratiskan

finnews.id – Pemerintah resmi memberikan stimulus besar bagi industri dengan memangkas bea...

Market

Kabar Baik! Pajak Kendaraan Listrik Ditunda, Pemilik EV Bisa Bernapas Lega

Dengan adanya insentif ini, diharapkan minat masyarakat terhadap kendaraan listrik semakin meningkat,...

ANTM mencetak laba bersih Rp3,4 triliun di kuartal I 2026, melonjak 59%. Pendapatan, aset, dan ekuitas ikut menguat.
Market

Laba ANTM Melonjak 59 Persen, Tembus Rp3,4 Triliun di Awal 2026, Kinerja Emiten Tambang Ini Makin Panas

Bagi pasar, ini menjadi sinyal penting bahwa pertumbuhan ANTM bukan hanya berasal...