finnews.id – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membuka 2026 dengan lonjakan kinerja yang mencuri perhatian pasar. Emiten tambang pelat merah ini membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp3,40 triliun pada kuartal I 2026, melonjak 59,62% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp2,13 triliun.

Kenaikan laba yang agresif ini datang seiring pertumbuhan pendapatan, ekspansi profitabilitas, dan penguatan neraca perseroan. Kombinasi itu mendorong ANTM menjadi salah satu emiten berbasis komoditas yang tampil menonjol pada awal tahun.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2026 yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, total laba bersih periode berjalan perseroan juga meningkat menjadi Rp3,66 triliun, naik dari Rp2,32 triliun pada akhir Maret 2025.

Pendapatan Naik, Mesin Profit ANTM Makin Kencang

Kinerja impresif ini ditopang kenaikan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan yang mencapai Rp29,32 triliun. Angka ini tumbuh dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp26,15 triliun.

Kenaikan penjualan menjadi motor utama pertumbuhan laba, meski beban pokok penjualan ikut meningkat menjadi Rp23,70 triliun dari Rp22,51 triliun.

Namun, ANTM mampu menjaga margin dan mendorong profitabilitas lebih tinggi. Laba kotor melonjak menjadi Rp5,61 triliun, jauh di atas capaian Rp3,63 triliun pada kuartal I 2025.

Lonjakan itu berlanjut pada laba usaha yang menembus Rp4,50 triliun, hampir dua kali lipat dibanding Rp2,69 triliun pada periode sebelumnya. Angka ini menunjukkan pertumbuhan operasional perseroan berlangsung solid, bukan sekadar ditopang faktor non-operasional.

Laba Sebelum Pajak Melonjak Meski Beban Keuangan Naik

Di tengah kenaikan beban keuangan menjadi Rp107,76 miliar, perseroan tetap menjaga laju pertumbuhan laba.

ANTM membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp4,78 triliun, melesat signifikan dibandingkan Rp2,93 triliun pada kuartal I tahun lalu.

Kinerja ini menegaskan tekanan biaya pembiayaan belum mengganggu momentum pertumbuhan perusahaan. Justru, ekspansi laba usaha mampu menutup kenaikan biaya dan tetap mendorong bottom line bertumbuh kuat.