finnews.id — Kinerja PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mulai menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat di awal 2026. Perusahaan konstruksi pelat merah ini berhasil mencetak peningkatan margin operasi sekaligus menekan utang secara signifikan di tengah kondisi pasar yang menantang.
Transformasi yang dijalankan sepanjang kuartal I-2026 mulai membuahkan hasil nyata. WIKA tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat fundamental keuangan dan mencatat pertumbuhan kontrak baru.
Kontrak Baru Tumbuh, Sinyal Infrastruktur Mulai Bangkit
Sepanjang kuartal I-2026, WIKA berhasil membukukan kontrak baru sebesar Rp2,53 triliun. Angka ini tumbuh 17,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut mendorong total kontrak berjalan (order book) perusahaan mencapai Rp33,89 triliun. Capaian ini menjadi indikasi bahwa sektor infrastruktur nasional mulai menggeliat, meskipun masih dibayangi dinamika global dan tekanan di industri konstruksi.
Kondisi ini memberi sinyal positif bagi pelaku pasar bahwa aktivitas proyek mulai kembali bergerak.
Penjualan Rp3,90 Triliun, Ditopang Tiga Sektor Utama
Dari sisi pendapatan, WIKA mencatat total penjualan sebesar Rp3,90 triliun. Pendapatan tersebut berasal dari proyek non Kerja Sama Operasi (KSO) sebesar Rp2,60 triliun dan proyek KSO sebesar Rp1,30 triliun.
Kontribusi utama masih datang dari tiga lini bisnis utama, yaitu infrastruktur dan gedung, industri penunjang konstruksi, serta energi dan industrial plant.
Kombinasi ketiga sektor ini menjadi tulang punggung kinerja perseroan dalam menjaga stabilitas pendapatan di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.
Margin Operasi Melejit, Efisiensi Mulai Terlihat
Salah satu pencapaian paling menonjol terlihat dari peningkatan margin operasi. Pada kuartal I-2026, gross profit margin WIKA naik menjadi 9,1%, dari sebelumnya 7,4% pada periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa strategi efisiensi dan transformasi operasional mulai berjalan efektif.