finnews.id — Mata uang Yen Jepang mencatatkan kenaikan drastis pada perdagangan Kamis, 30 April 2026. Lonjakan ini terjadi tepat setelah para pejabat tinggi di Tokyo mengeluarkan peringatan paling keras sejauh ini mengenai potensi campur tangan pemerintah untuk menstabilkan nilai tukar mata uang mereka.
Kenaikan signifikan ini langsung memukul posisi mata uang Amerika Serikat. Dolar AS terpantau merosot 2,1 persen ke level 156,985 yen pada pukul 11.06 GMT. Penurunan ini menempatkan Dolar pada jalur koreksi harian terbesar sejak Agustus tahun lalu, yang kala itu sempat melemah hingga 2,25 persen.
Sinyal “Tindakan Tegas” dari Menteri Keuangan
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam melihat pelemahan mata uang nasional yang terus berlanjut. Ia memberikan kode keras bahwa otoritas moneter sudah sangat dekat untuk mengambil langkah nyata di pasar valuta asing.
“Waktu untuk mengambil ‘tindakan tegas’ di pasar semakin dekat,” tegas Katayama.
Pernyataan ini menjadi sinyal terkuat hingga saat ini bahwa Tokyo siap melakukan intervensi mata uang untuk menopang nilai Yen yang sempat terpuruk.
Indikasi Intervensi Resmi dan Fenomena Short Covering
Para pelaku pasar mencatat bahwa pergerakan harga yang dimulai sekitar pukul 10.26 GMT menunjukkan ciri-ciri adanya pembelian resmi oleh otoritas terkait. Ahli strategi mata uang dari Societe Generale, Kenneth Broux, menilai pergerakan tajam ini sangat mungkin melibatkan peran Bank of Japan (BOJ) serta aksi short covering dari para investor.
“Tentu saja tampaknya begitu, dan juga aksi short covering. Komentar ‘peringatan terakhir’ pasti telah mengguncang beberapa akun,” ujar Kenneth Broux saat menanggapi dugaan intervensi tersebut.
Berdasarkan data posisi mingguan, para investor sebelumnya memegang posisi short terbesar sejak Juli 2024. Posisi ini diambil berdasarkan asumsi bahwa Yen akan terus mengalami depresiasi atau penurunan nilai.
Namun, gertakan dari pemerintah Jepang terbukti efektif mengguncang pasar dan memaksa para spekulan untuk mengubah posisi mereka.
Hingga berita ini diturunkan, divisi valuta asing Kementerian Keuangan Jepang masih belum memberikan komentar resmi lebih lanjut terkait detail operasi pasar yang terjadi.
Namun, lonjakan 2% ini menjadi bukti nyata bahwa Jepang sangat serius dalam menjaga stabilitas nilai tukar Yen di kancah global.