Home Market Rupiah Tembus 17.385 dan IHSG Ambles 2,5 Persen! Gejolak Minyak Picu Kejatuhan Pasar Asia
Market

Rupiah Tembus 17.385 dan IHSG Ambles 2,5 Persen! Gejolak Minyak Picu Kejatuhan Pasar Asia

Bagikan
Rupiah jatuh ke 17.385 dan IHSG ambles 2,5% dipicu lonjakan harga minyak. Pasar Asia kompak melemah di tengah ketegangan global.
Ilustrasi
Bagikan

finnews.id — Tekanan besar menghantam pasar keuangan Asia. Mayoritas mata uang dan indeks saham di kawasan emerging market (EM) kompak melemah hingga penutupan sesi perdagangan Kamis (30/4/2026). Lonjakan harga minyak global menjadi pemicu utama gejolak ini, bahkan menyeret rupiah dan IHSG ke posisi paling tertekan.

Di tengah sentimen global yang memanas, rupiah justru tampil sebagai mata uang dengan pelemahan paling dalam. Sementara itu, IHSG ikut terseret dan memimpin penurunan indeks saham di kawasan Asia.

Rupiah Terpuruk ke Rekor Terendah

Hingga pukul 15.00 WIB, rupiah tercatat melemah 0,6% dan menyentuh level 17.385 per dolar AS. Angka ini menjadi posisi terendah sepanjang sejarah, sekaligus mempertegas tekanan besar yang sedang terjadi di pasar valuta asing Indonesia.

Tak hanya harian, tekanan terhadap rupiah juga terlihat dalam skala bulanan. Sepanjang April 2026, mata uang Garuda sudah merosot 2,2%. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak Oktober 2024.

Faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah datang dari lonjakan harga minyak dunia. Harga energi yang melesat memperbesar beban impor Indonesia, sehingga memperlemah posisi mata uang domestik.

Efek Domino Harga Minyak Global

Kenaikan harga minyak dipicu laporan bahwa Amerika Serikat mempertimbangkan aksi militer terhadap Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global, sehingga pasar langsung bereaksi.

Lonjakan harga energi tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga mengguncang stabilitas pasar emerging market Asia secara luas. Mata uang seperti peso Filipina dan ringgit Malaysia juga ikut tertekan.

Peso Filipina sempat menyentuh rekor terendah di 61,693 per dolar sebelum akhirnya bergerak tipis. Sementara itu, ringgit Malaysia melemah sekitar 0,5%.

Tekanan Fiskal dan Risiko Meningkat

Ekonom Asia dari ANZ, Krystal Tan, menilai guncangan dari Timur Tengah memperberat tantangan ekonomi Indonesia. Ia menyoroti kenaikan harga minyak yang memperbesar beban fiskal dan meningkatkan risiko pasar.

Bagikan
Artikel Terkait
Rangkuman perdagangan 30 April 2026: IHSG turun 2,03% ke 6.956, asing net sell Rp1,5 triliun, saham big caps tertekan.
Market

Rangkuman Perdagangan 30 April 2026: IHSG Rontok ke 6.956, Asing Kabur Rp1,5 Triliun!

finnews.id — Pergerakan pasar saham Indonesia pada penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026) menyisakan...

Market

Gerai Matahari di Revo Mall Bekasi Tutup Permanen, Ini Penjelasan Manajemen

finnews.id – Gerai Matahari Department Store yang berlokasi di Revo Town Mall,...

Market

Harga Daihatsu Xenia 2016 Bekas Jelang Idul Adha 2026, Mulai Dari Rp 100 Jutaan

finnews.id – Menjelang momen Idul Adha, pasar mobil bekas kembali menunjukkan pergerakan...

Market

Stok Berlimpah, Harga Bawang dan Cabai Turun

finnews.id – Harga sejumlah bahan pokok di Kabupaten Bekasi terpantau stabil dengan...