Dampaknya langsung terasa pada kinerja keuangan. Laba kotor tercatat naik 3% menjadi Rp238,36 miliar. Sementara itu, EBITDA operasi melonjak 10,3% hingga mencapai Rp104,9 miliar.
Selain itu, WIKA juga berhasil menekan biaya usaha sebesar 10,5% secara tahunan. Penurunan ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan profitabilitas perusahaan.
Utang Turun Rp2,97 Triliun, Disiplin Keuangan Diperketat
Tidak hanya fokus pada profitabilitas, WIKA juga memperkuat struktur keuangan. Perseroan mencatat penurunan total utang sebesar Rp2,97 triliun atau turun 7,4% dibandingkan periode sebelumnya.
Penurunan ini terdiri dari utang mitra kerja yang berkurang Rp2,01 triliun atau turun 33,4%. Selain itu, utang berbunga juga turun sebesar Rp959,72 miliar atau 2,8%.
Langkah ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam menjaga kesehatan keuangan sekaligus memenuhi kewajiban kepada mitra kerja dan kreditur.
Manajemen Beberkan Strategi Lanjutan
Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito (BW), menegaskan bahwa hasil ini menjadi bukti nyata dari konsistensi transformasi yang dijalankan perusahaan.
“Peningkatan margin dan efisiensi ini menjadi bukti bahwa langkah transformasi mulai memberikan hasil positif. Kami akan terus fokus pada penguatan fundamental operasional dan disiplin keuangan,” ujarnya.
Ke depan, WIKA akan melanjutkan strategi seleksi proyek secara lebih ketat. Selain itu, perusahaan juga memperkuat tata kelola serta pengelolaan arus kas agar kinerja tetap sehat dan berkelanjutan.
Fokus Keberlanjutan Jadi Kunci
WIKA menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan bisnis melalui implementasi proyek yang lebih efisien dan berkualitas.
Strategi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kinerja jangka pendek, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.
Dengan kombinasi efisiensi, penguatan fundamental, dan selektivitas proyek, perusahaan optimistis dapat menghadapi tantangan industri konstruksi yang masih dinamis. (*)