finnews.id — Pasar global kembali berada di persimpangan. Harga emas bergerak stabil pada perdagangan Rabu (29/4/2026), tetapi ketenangan itu dinilai semu. Investor kini menahan napas menunggu pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell, di tengah risiko geopolitik Iran dan lonjakan harga minyak yang berpotensi mengguncang inflasi dunia.
Logam mulia yang kerap menjadi aset perlindungan saat krisis itu tercatat hanya bergerak tipis, namun tekanan dan peluang masih sama-sama besar. Pelaku pasar kini membaca setiap sentimen dengan sangat hati-hati, dari arah suku bunga hingga ancaman eskalasi Timur Tengah.
Harga Emas Stabil, Pasar Fokus ke Keputusan The Fed
Harga emas spot tercatat turun sangat tipis 0,01 persen ke level US$4.596,18 per ons pada pukul 12.35 WIB. Meski bergerak nyaris datar, posisi ini datang setelah emas sempat menyentuh level terendah sejak 2 April pada sesi sebelumnya.
Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat kontrak Juni justru menguat 0,13 persen ke US$4.614,20 per ons, memberi sinyal investor belum sepenuhnya keluar dari aset safe haven.
Fokus pasar kini tertuju pada hasil pertemuan dua hari Federal Reserve yang diperkirakan mempertahankan suku bunga tetap. Namun perhatian utama bukan hanya keputusan suku bunga, melainkan sinyal Jerome Powell terhadap dampak perang Iran terhadap ekonomi global.
Pasar menunggu apakah bank sentral AS membuka ruang intervensi jika tekanan ekonomi membesar, atau justru mempertahankan sikap ketat lebih lama.
Sinyal Powell Bisa Jadi Penentu Arah Emas
Pelaku pasar menilai komentar Powell berpotensi menjadi penentu arah emas jangka pendek. Jika The Fed memberi sinyal ruang pelonggaran sempit, tekanan terhadap emas bisa berlanjut.
Kepala Makro Global Tastylive Ilya Spivak menilai sebagian ketahanan pasar selama ini dibangun atas asumsi The Fed siap turun tangan saat kondisi memburuk. Jika asumsi itu goyah, volatilitas bisa meningkat.
Karena emas tidak memberi imbal hasil, lingkungan suku bunga tinggi kerap menekan daya tarik logam mulia. Itulah sebabnya sikap Powell menjadi sangat krusial bagi arah harga berikutnya.
Konflik Iran dan Lonjakan Minyak Tambah Risiko Baru
Di luar sentimen moneter, pasar juga dibayangi kebuntuan upaya damai terkait Iran. Ketidakpastian geopolitik itu mendorong investor tetap menjaga eksposur terhadap aset lindung nilai.