Leong Putu
Lihat videonya Pak Bos saat senam Dahlan Iskan di Cina sana, baru nyadar, pantesan Pak Bos gak bisa “neko²” saat mbolang. Lha wong dikawal ketat “Si Mata Elang”. Ai Meme tinggi langsing itu selalu mepet Pak Bos, pastilah laporannya ke Bu Bos real time. Misal : “Bu Dahlan, Pak Bos sedang lirik 7i tanpa kasih kendor, sampai jalanpun kesandung trotoar” .. “Bu Dahlan, Pak Bos sedang cengengesan ke kasir resto tempat makan siang” .. “Bu Dahlan,……” “Bu Dahlan…….
Juve Zhang
Zhuge Liang muda selalu bermunculan di Tiongkok mereka menguasai riset dunia 70% itu kata Jensen Huang cwo Nvidia bukan ka ta supir angkot….jelas Jensen Huang cemas ….masa depan ada di T bukan di A….chips Nvidia makin sulit dijual ke T….dulu Nvidia kaya raya dari jualan chips ke T…. sekarang T sudah mampu mengejar Nvidia…. Jensen Huang sudah paham jalan masa depan ada di T….semua jenius Zhuge Liang ada di sana kumpul di T….cuma masalah waktu yg akan membalikan semua kekayaan Nvidia turun ke bawah…. Jensen Huang sendiri cuma punya saham Nvidia 3%. Tapi nilai perusahaan nya di jaga sama Top Fund managers gak bakalan melorot….wkwkw
Vikagora Prayogi
Zaman masih kecil dulu awal tahun 90an, ketika ada keluarga yang tebang pohon kelapa saya sama temen-temen merencanakan bikin mainan mirip arco. Batang kelapa bagian ujung dipotong seukuran roda kemudian di haluskan luarnya, kadang dibungkus karet ban bekas kalau tidak ada kita pakai sandal bekas. Bagian tengahnya di lubangi dan di isi dengan bambu kecil untuk lubang poros atau as roda Kami buat bambu dibentuk seperti tangga yang bagian ujungnya dimasukkan terlebih dahulu ke lubang roda sebagai as roda. Dengan itu kami bergantian untuk naik, kadang kami naik 2 atau 3 orang dan paman paman yang mendorong kami keliling kampung. Saat itu kami belum begitu faham ilmu fisika meletakkan beban terpusat di roda, yang penting bisa bermain dan senang bersama teman teman.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
ARCO DAN SATU HAL YANG SERING TAK TERPIKIRKAN.. Orang melihat arco, pikirnya alat angkut. Selesai. Padahal ada satu hal yang jarang disadari: ia mengubah cara tubuh bekerja. Di museum Huai An itu, gerobak satu roda bukan sekadar efisien. Ia “memaksa” manusia berdiri di posisi optimal. Punggung relatif tegak. Beban tidak menekan bahu. Tangan hanya mengarahkan, bukan mengangkat penuh. Bandingkan dengan pikul tradisional. 1) Beban menggantung di bahu. 2) Tulang belakang yang menanggung. 3) Dalam jangka panjang, itu mahal. Bukan uang. Tapi kesehatan. Arco diam-diam adalah teknologi ergonomi. Jauh sebelum istilah ergonomi populer di buku teknik. 1) Ia menjaga tenaga. 2) Sekaligus menjaga tubuh. Mungkin Zhuge Liang tidak memikirkan istilah itu. Tapi hasilnya terasa. 1) Produktivitas naik. 2) dera turun. Itu sudah cukup jadi “ilmu”. Yang sering luput, teknologi hebat bukan hanya memindahkan barang. Tapi memindahkan beban dari “tubuh manusia” ke “sistem”. Arco melakukannya dengan sunyi. Tanpa seminar. Tanpa sertifikasi. Tanpa slide presentasi. Tapi dampaknya nyata, setiap hari, sejak seribu tahun lalu.