Liáng – βιολί ζήτα
CHDI : “Saya tertegun ketika tiba di depan dinding yang memajang ilustrasi ini: gerobak dengan satu roda di bagian depannya. Gerobaknya terbuat dari kayu. Rodanya pun dari kayu.” …………… “Di Huai An saya tidak mendapat kepastian siapa penemu arco. Di sana umumnya orang mengetahui penemunya adalah Zhuge Liang –meski belum pasti.” Kemungkinan besar, itu adalah 中国的独轮车 (Zhōngguó de dúlúnchē). Berdasarkan catatan Arkeologi, bukti paling awal tentang gerobak dorong berasal dari artefak yang digali dari makam Dinasti Han (汉代 Hàndài) di daerah Chengdu (成都 Chéngdū) di Sichuan (四川 Sìchuān) sekitar tahun 118 M (sebelum Zhuge Liang lahir) yang menggambarkan seseorang menggunakan gerobak dorong. Literatur menunjukkan, Zhuge Liang (181 – 234 M) mengembangkan 木牛流马 (Mùniúliúmǎ) yang berarti “sapi kayu dan kuda mengalir”, untuk kepentingan militer sewaktu pertempuran tahun 231 M. Dari kata “mengembangkan”, sangat jelas, itu berarti mengacu ke objek yang sudah ada, yang dimodifikasi untuk kepentingan tertentu. Oleh karena itu….. dapat dipastikan Zhuge Liang “bukan penemu arco” tersebut….. Lantas….. Apa dan bagaimana 中国的独轮车 (Zhōngguó de dúlúnchē) ?? Juga, apa itu 木牛流马 (Mùniúliúmǎ)nya Zhuge Liang ?? Silakan dibaca saja literaturnya…..
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
AS JUGA INGIN MENGUASAI SELAT MALAKA: SIAPA PALING UNTUNG, DAN APA IMBALANNYA? Selat Malaka itu kasir raksasa. Kapal lewat. Uang ikut mengalir. Amerika Serikat tidak perlu punya. Cukup hadir, cukup berpengaruh. Itu sudah cukup mengunci jalur energi dunia. Siapa paling untung? 1) SINGAPURA. Pendapatan maritim—pelabuhan, bunker BBM, jasa logistik—diperkirakan sekitar US$60–70 miliar/tahun (±Rp960–1.120 triliun). Ini mesin uang. Stabil. Konsisten. Sulit disaingi. 2) MALAYSIA. Menikmati sekitar US$10–15 miliar (±Rp160–240 triliun) dari pelabuhan dan jasa terkait. Tidak sebesar Singapura, tapi tetap gemuk. 3) INFONESIA. Masih di kisaran US$5–10 miliar (±Rp80–160 triliun). Potensi besar. Realisasi masih tertahan. Infrastruktur dan positioning belum sekuat tetangga. ### Lalu, apa “imbalan” dari kerja sama dengan AS? 1)) Untuk Singapura: keamanan jalur, kepercayaan global, arus kapal tidak pindah. 2)) Untuk Malaysia: akses teknologi militer, latihan, dan stabilitas kawasan. 3)) Untuk Indonesia: peningkatan kapasitas pertahanan, intelijen, dan posisi tawar. Ini barter halus. Keamanan ditukar pengaruh. Uang mengikuti rasa aman. Dan di Selat Malaka, rasa aman itu mahal—dan sangat laku.