Wilwa
Dan tambah parah seabad setelah Amangkurat II yaitu ketika paman dan ponakan mantu dan ponakan bukan mantu berkonflik. Sang Paman yaitu Mangkubumi kemudian mendirikan Kesultanan Yogyakarta bergelar Hamengku Buwono. Naik tingkat dari Mangku Bumi (memangku bumi, bumi kok bisa dipangku ya?) menjadi memangku semesta! (hamengku = memangku, buwono = buana = alam semesta). Sedangkan sang keponakan yang masih muda itu (Pakubuwono IV) pasrah saja wilayahnya diambil separuh oleh Sang Paman. Berkat VOC yang menjadi penengah. Paku Buwono = Paku Semesta! Semesta bisa lho dipaku! :). Lalu mantu sekaligus ponakan Mangkubumi yaitu Raden Mas Said karena gak dapat bagian wilayah berbalik memberontak kepada mertua sekaligus pamannya itu dan berpihak pada sepupunya (Pakubuwono/Pakubuwono IV) yang semula dia perangi, sampai akhirnya VOC datang menengahi lagi dan RM Said akhirnya dapat bagian wilayah juga, diambil dari wilayah Pakubuwono IV. Angka 4 itu mungkin memang angka sial. Hmmm. RM Said yang dijuluki Pangeran Samber Nyowo (Sambar Nyawa) itu kemudian bergelar Mangku Negoro / Mangku Negara. Negara bisa lho dipangku. :). Begitulah kisah tragis keturunan Sultan Agung Hanyokrokusumo yang berperang sendiri berebut takhta.
Er Gham 2
Garpu dan pacul. Itu alat buat pembentuk otot para petani. Berangkat ke sawah atau padang setelah subuh. Lalu berjam jam nge-gym dengan pacul atau garpu. Walau kurus, legam, dan liat, namun tubuhnya tetap sehat dan kuat. Siang hari pulang lalu mandi. Setelah makan siang, tidur sebentar sambil menunggu ashar. Sore hari ngobrol dengan tetangga. Suatu siklus yang sehat. Tidak terpenjara oleh meja dan laptop dari jam delapan sampai jam lima sore. Tidak boleh keluyuran, kecuali saat makan siang. Diawasi oleh mata elang para atasan. Tiap pagi harus isi absensi atau tap name tag. Persis para napi di penjara yang harus diperiksa kehadirannya tiap pagi oleh para sipir penjara.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
PERANG AM-IS VS IRAN: SCORE HARI INI, MILITER DAN POLITIK.. A)) Di medan militer, skor belum knockout. Amerika Serikat dan Israel unggul teknologi, udara, presisi. Serangan tepat, cepat, mahal. Iran bermain beda. Asimetris. Drone murah, rudal banyak, proxy di mana-mana. Hasilnya? 1) Secara taktis, AM-IS unggul. 2) Secara biaya, Iran efisien. Ini seperti Ferrari lawan kawanan motor bebek. Cepat vs ramai. 1) Di laut dan udara, dominasi masih di tangan AM-IS. 2) Tapi di darat—terutama lewat jaringan seperti Hezbollah—Iran punya “kedalaman permainan”. Perang jadi melebar, tidak rapi, dan sulit ditutup. B)) Di politik, skornya lebih licin. AM-IS unggul aliansi formal, dukungan Barat, dan legitimasi sebagian. Tapi Iran unggul narasi perlawanan dan simpati di Global South. Sanksi jalan, tapi tidak mematikan. Bahkan kadang menguatkan solidaritas domestik. Kesimpulannya: AA) Militer AM-IS unggul di atas kertas. BB) Politik? Seri cenderung ke Iran. Perang ini bukan sprint. Ini maraton. Dan yang sering menang maraton bukan yang paling cepat. Tapi yang paling tahan napas.