finnews.id – Pecinta astronomi di seluruh dunia, termasuk Indonesia, bersiap menyambut atraksi visual memukau di langit malam April 2026. Fenomena hujan meteor Lyrid, yang menyandang predikat salah satu hujan meteor tertua dalam sejarah manusia, kini memasuki fase aktif dan segera mencapai puncak intensitasnya.
Masyarakat dapat menikmati keajaiban alam ini secara langsung tanpa memerlukan bantuan alat optik canggih seperti teleskop. Kehadiran Lyrid menambah semarak deretan fenomena langit tahun ini, bersaing dengan hujan meteor lainnya seperti Alpha Capricornid. Meski demikian, Lyrid memiliki daya tarik khusus berkat jejak debu berkilau yang kerap tertinggal saat meteor terbakar di atmosfer.
Berdasarkan data American Meteor Society, Lyrid merupakan hujan meteor dengan kekuatan menengah. Fenomena ini biasanya menyuguhkan pertunjukan meteor yang stabil selama tiga malam berturut-turut di sekitar waktu puncaknya.
Walaupun intensitasnya tidak sepadat hujan meteor Perseid atau Geminid, Lyrid seringkali memproduksi “bolide” atau bola api—meteor yang terbakar dengan cahaya sangat terang. Penduduk di belahan bumi utara, termasuk sebagian besar wilayah Indonesia, memiliki posisi pengamatan terbaik. Waktu ideal untuk memantau langit adalah saat menjelang fajar, ketika rasi bintang Lyra sudah berada cukup tinggi di cakrawala.
Warisan Komet Thatcher Sejak Ribuan Tahun
Sains mencatat bahwa hujan meteor Lyrid berasal dari sisa-sisa debu komet C/1861 G1 atau komet Thatcher. Astronom A.E. Thatcher pertama kali menemukan komet ini pada 5 April 1861. Kala itu, ia mendeskripsikan temuannya sebagai nebula tanpa ekor dengan diameter dua hingga tiga kali ukuran Jupiter.
Komet Thatcher memiliki periode orbit yang sangat panjang dan para ahli memprediksi komet ini baru akan kembali mendekati Bumi pada tahun 2276. Meski manusia saat ini tidak bisa melihat fisik kometnya, kita tetap bisa menikmati “warisan” debunya setiap tahun. Saat Bumi melintasi jalur orbit komet tersebut, material berdebu bergesekan dengan atmosfer dan menciptakan kilatan cahaya meteor.