finnews.id – Kabar mengejutkan datang dari panggung geopolitik dunia yang langsung mengubah arah angin di pasar keuangan pagi ini. Kamu yang memantau pergerakan pasar pasti tahu betapa tegangnya situasi kemarin. Namun, secara tak terduga, Presiden AS Donald Trump mengambil langkah besar dengan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu. Langkah ini muncul kurang dari 24 jam setelah ancaman keras sebelumnya, memicu kembalinya gairah pasar yang kita kenal sebagai “TACO trade”.
Meskipun pertemuan antara Wakil Presiden AS dan pihak Teheran di Pakistan sempat gagal karena masalah perwakilan, keputusan Trump ini memberikan nafas lega bagi ekonomi global. Meski Selat Hormuz masih dalam kondisi blokade dan perbatasan perairan dijaga ketat, peluang negosiasi damai kini terbuka lebar. Dampaknya langsung terasa: indeks masa depan (futures) S&P 500 naik 0,4%, sementara harga minyak Brent yang sempat meledak kini mulai mendingin dengan penurunan 0,7%.
Kevin Warsh Calon Bos Baru The Fed: Boneka Trump atau Penjaga Independensi?
Di sisi lain Samudra Atlantik, perhatian investor tertuju pada suksesi kepemimpinan bank sentral Amerika Serikat. Trump resmi menominasikan Kevin Warsh sebagai Gubernur The Fed berikutnya untuk menggantikan Jerome Powell bulan depan. Kamu mungkin bertanya-tanya, apakah Warsh akan tetap independen atau sekadar mengikuti kemauan politik Gedung Putih?
Dalam sidang di hadapan Senat, Warsh meyakinkan publik tentang komitmennya menjaga independensi kebijakan moneter. Namun, pasar tetap waspada. Saat ini, ekspektasi pemangkasan suku bunga (pivot) makin menjauh. Para pelaku pasar memprediksi pemangkasan suku bunga penuh 25 bps mungkin baru akan terjadi pada Juli 2027, terutama karena lonjakan harga energi akibat ketegangan global yang masih membayangi prospek inflasi.
IHSG Tersungkur Akibat Drama MSCI, TINS dan BUMI Siap Rebalancing?
Kabar dari dalam negeri sayangnya belum seindah sentimen global. IHSG kemarin tersungkur 0,5% akibat tekanan hebat pada saham-saham raksasa (bigcap). Keputusan MSCI untuk mengeluarkan DSSA dan BREN dari indeks HSC menjadi biang kerok utama. Tekanan ini diprediksi akan menjalar ke indeks lain seperti FTSE, apalagi setelah Bursa Efek Indonesia (IDX) menerapkan klasifikasi baru untuk indeks IDX80.