finnews.id – Waspada buat kamu yang sering transaksi pakai mata uang asing! Dolar Amerika Serikat (AS) mendadak “ngamuk” dan terbang ke level tertinggi dalam sepekan terakhir. Kabar buruk bagi mata uang dunia lainnya seperti Euro dan Yen, karena mereka terpaksa bertekuk lutut akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas antara Amerika Serikat dan Iran.
Pasar finansial global saat ini sedang dalam mode panik tingkat tinggi. Investor mulai meragukan kesepakatan damai akan tercapai dalam waktu dekat. Bayangkan saja, batas waktu gencatan senjata akan berakhir Selasa, namun Iran masih belum memberikan kepastian apakah mereka mau duduk di meja perundingan atau tidak. Situasi ini langsung membuat pelaku pasar berbondong-bondong menyelamatkan aset mereka ke dalam pelukan greenback.
Tragedi Selat Hormuz: Aksi Sita Kapal Bikin Pasar Mencekam
Mengapa dolar bisa sekuat itu? Salah satu pemicu utamanya adalah laporan bahwa pasukan militer Amerika Serikat baru saja menaiki sebuah kapal tanker minyak raksasa milik Iran di laut lepas. Aksi nekat ini tentu saja menyiram bensin ke dalam api konflik yang sudah berkobar. Jalur strategis Selat Hormuz kini terancam mengalami gangguan distribusi energi yang jauh lebih lama dari perkiraan semula.
Chief Market Strategist Corpay, Karl Schamotta, menilai bahwa pasar kini sedang bersiap menghadapi kebuntuan diplomatik yang panjang. Meskipun sempat ada harapan akan momen perdamaian atau “Kumbaya” di Pakistan, nyatanya perbedaan syarat antara Washington dan Teheran masih sangat tajam. “Itu belum terjadi dan itulah yang sebenarnya diinginkan pasar agar Selat Hormuz bisa terbuka kembali,” ungkap Juan Perez dari Monex USA.
Data Ekonomi AS Makin Gila, Dolar AS Makin Tak Tertandingi
Bukan cuma soal perang, keperkasaan mata uang Amerika juga mendapat asupan tenaga dari dalam negerinya sendiri. Data penjualan ritel AS sepanjang Maret melesat tajam melampaui ekspektasi semua orang. Lonjakan harga bahan bakar akibat perang Iran dan geliat sektor jasa yang luar biasa membuat ekonomi Negeri Paman Sam terlihat sangat kebal terhadap krisis.