Kondisi ekonomi yang terus tancap gas ini membuat peluang pemangkasan suku bunga oleh bank sentral (The Fed) semakin tipis. Saat ini, pelaku pasar hanya berani bertaruh 30 persen bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga pada tahun 2026. Suku bunga yang tetap tinggi inilah yang menjadi magnet bagi modal global untuk terus mengalir masuk ke Amerika Serikat.
Euro dan Yen Jepang Jadi Korban Keganasan Greenback
Nasib sial menimpa mata uang utama lainnya. Indeks Dolar AS (DXY) terpantau naik 0,36 persen ke posisi 98,43. Kenaikan ini langsung menghantam Euro yang melemah 0,44 persen ke posisi USD1,1736. Tak ketinggalan, Yen Jepang juga tersungkur 0,37 persen menjadi 159,39 per dolar AS, sementara Poundsterling Inggris ikut melorot 0,29 persen.
Kondisi ini tentu merugikan bagi kamu yang punya rencana traveling ke luar negeri atau pengusaha yang harus mengimpor barang. Mata uang global saat ini benar-benar tidak berdaya menghadapi dolar yang sedang berada di atas angin sebagai aset aman atau safe haven nomor satu di dunia saat terjadi gejolak geopolitik.
Sinyal Keras Kevin Warsh: Reformasi The Fed di Depan Mata
Ketidakpastian pasar semakin bertambah seiring berlangsungnya proses konfirmasi calon Chairman The Fed yang baru, Kevin Warsh. Dalam kesaksiannya di depan Senat Amerika, Warsh menyerukan perubahan besar-besaran atau reformasi di bank sentral. Ia ingin merombak total pendekatan inflasi dan cara komunikasi kebijakan moneter yang selama ini dianggap terlalu terbuka.
Bagi investor, pernyataan Warsh ini menambah bumbu volatilitas di pasar valuta asing. Perpaduan antara risiko perang di Selat Hormuz, data ekonomi domestik AS yang super kuat, serta potensi perubahan arah kebijakan moneter AS membuat dolar kembali menjadi raja. Jadi, kalau kamu punya tabungan dolar, mungkin sekarang saatnya tersenyum, tapi bagi pengguna mata uang lain, sepertinya harus lebih bersabar menghadapi guncangan global ini. (*)