finnews.id – Hati-hati, gejolak geopolitik di Timur Tengah ternyata bukan cuma soal perang jauh di sana. Guncangan ini mulai merembet ke dapur warga Indonesia! Kamu harus tahu kalau konflik ini memicu kenaikan harga nafta—bahan baku utama industri plastik—hingga menyentuh angka fantastis USD901,9 per ton. Ini bukan sekadar angka, tapi sinyal bahaya bagi harga kebutuhan pokok kita sehari-hari.
Ekonom sekaligus Pakar Kebijakan Publik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, memperingatkan bahwa kita tidak boleh menganggap remeh situasi ini. Dampak kenaikan harga nafta bakal menjalar ke mana-mana, mulai dari biaya produksi, pengemasan, hingga harga minyak goreng dan beras di pasar.
Rantai Pasok Terancam: Mengapa Harga Nafta Sangat Krusial?
Mungkin kamu bertanya-tanya, apa hubungannya nafta dengan harga beras? Jawabannya ada pada kemasan. Nafta adalah tulang punggung industri petrokimia yang memproduksi plastik kemasan. Di Indonesia, hampir semua barang kebutuhan menggunakan plastik, mulai dari makanan olahan hingga beras kemasan.
“Nafta bukan sekadar komoditas energi, melainkan bahan baku penting bagi industri petrokimia yang menghasilkan plastik kemasan. Dari sinilah persoalan mulai membesar,” tegas Achmad pada Selasa (21/04). Ketika harga bahan baku plastik meroket, otomatis ongkos usaha dan biaya distribusi pun ikut terdorong naik. Sayangnya, Indonesia masih sangat rentan terhadap efek rambatan atau spillover effect seperti ini.
UMKM di Ujung Tanduk: Pilih Naikkan Harga atau Kurangi Ukuran?
Bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kenaikan harga plastik kemasan adalah ancaman nyata bagi kelangsungan bisnis. Banyak UMKM bergantung pada kemasan plastik untuk menjaga kualitas dan memperpanjang daya simpan produk mereka. Saat biaya kemasan membengkak, ruang gerak mereka pun semakin sempit.
Achmad menjelaskan bahwa usaha besar mungkin masih bisa bertahan dengan melakukan efisiensi atau memanfaatkan kontrak jangka panjang. Namun, UMKM sering kali tidak punya pilihan lain. Mereka terpaksa menghadapi dilema sulit: menaikkan harga jual yang berisiko ditinggal pembeli, mengurangi ukuran produk, atau malah menekan kualitas barang.
Kadin Indonesia: Ada Peluang di Balik Krisis?
Di tengah kekhawatiran ini, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memberikan perspektif yang berbeda. Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, mengakui bahwa konflik di Timur Tengah memang mengguncang ekonomi global secara masif. Namun, ia optimis Indonesia bisa keluar sebagai pemenang di tengah badai krisis.
Anindya berkaca pada pengalaman sejarah Indonesia saat menghadapi krisis besar. “Apa pun sekalian, saya merasa bahwa justru karena krisis yang ada, kita akan lebih baik. Karena setiap krisis kita memiliki kesempatan bantuan,” ucapnya. Ia mengingatkan kembali masa-masa krisis 1998 dan 2008, di mana Indonesia berhasil bangkit dan menjadi lebih kuat meskipun guncangan awalnya berasal dari luar negeri.
Waspadai Lonjakan Harga Minyak Goreng dan Beras
Konflik Timur Tengah ini memang membawa dampak ganda. Selain nafta yang mencekik industri kemasan, fluktuasi harga minyak dunia juga terus membayangi. Jika distribusi terganggu, jalur logistik bahan baku seperti plastik, beras, dan minyak goreng akan semakin mahal. Konsumen akhir, yaitu kita semua, yang harus menanggung beban kenaikan harga ini di tingkat ritel.
Situasi ini menuntut pemerintah untuk lebih responsif dalam menjaga stabilitas harga di pasar domestik. Tanpa intervensi yang tepat, inflasi dari sektor non-pangan (kemasan) bisa saja meledak dan memicu kenaikan harga pangan secara kolektif. Tetap pantau terus perkembangan ekonomi global karena apa yang terjadi di Timur Tengah hari ini, bisa menentukan harga belanjaan kamu besok pagi! – Bianca Khairunnisa/Disway –