Home Market Harga Sawit Melejit Lagi! Minyak Nabati Dunia Ngamuk, Siap-Siap Cuan CPO Makin Melimpah?
Market

Harga Sawit Melejit Lagi! Minyak Nabati Dunia Ngamuk, Siap-Siap Cuan CPO Makin Melimpah?

Bagikan
Harga sawit (CPO) naik dua hari beruntun ke 4.518 ringgit! Terkerek kenaikan harga minyak kedelai dunia dan potensi menembus 4.566 ringgit per ton.
Ilustrasi - Petani CPO
Bagikan

finnews.id – Kabar gembira buat kamu yang memantau sektor komoditas! Harga minyak sawit mentah (CPO) kembali menunjukkan tajinya di pasar internasional. Tak tanggung-tanggung, harga sawit berhasil mencatatkan penguatan dua hari berturut-turut pada perdagangan Selasa siang. Gejolak harga minyak nabati pesaing di pasar global menjadi bahan bakar utama yang membuat nilai tukar CPO terbang tinggi.

Berdasarkan laporan terbaru dari Bursa Malaysia Derivatives Exchange, kontrak patokan minyak sawit untuk pengiriman Juli melonjak sebesar 20 ringgit atau setara 0,44 persen. Saat ini, harga bertengger di level 4.518 ringgit (USD1.142,06) per metrik ton. Bahkan, pada awal sesi perdagangan, harga sempat meledak hingga 1,04 persen. Fenomena ini tentu membuat para pelaku pasar kegirangan, meskipun mereka tetap harus waspada terhadap beberapa faktor pembatas.

Minyak Kedelai Jadi Biang Kerok Kenaikan Harga Sawit

Mengapa harga sawit bisa mendadak perkasa? Jawabannya ada pada pergerakan minyak nabati global lainnya. Kamu perlu tahu bahwa harga sawit punya “ikatan batin” dengan harga minyak kedelai (soyoil). Saat harga minyak kedelai di Dalian melonjak 0,91 persen dan harga minyak sawitnya di sana melesat 1,66 persen, CPO Malaysia otomatis ikut terseret naik.

Tidak hanya di Asia, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga merangkak naik 0,25 persen. Karena sawit berkompetisi ketat memperebutkan pangsa pasar minyak nabati dunia, pergerakan harga pesaing ini menjadi sinyal kuat bagi para trader. Selisih harga yang masih menguntungkan dibanding minyak nabati lain membuat permintaan terhadap CPO tetap kencang di pasar ekspor.

Waspada! Konflik AS-Iran dan Produksi Musiman Mengintai

Namun, jangan senang dulu. BMI Fitch Group dalam laporan terbarunya tetap mempertahankan proyeksi harga rata-rata tahunan minyak sawit 2026 di angka 4.300 ringgit per ton. Mereka mengingatkan bahwa harga jangka pendek masih sangat bergantung pada tensi geopolitik, terutama perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang bisa memicu fluktuasi harga energi global.

Dalam skenario dasar mereka, harga minyak sawit punya potensi turun menuju 4.200 ringgit per ton sepanjang kuartal kedua 2026. Hal ini bisa terjadi jika gencatan senjata di Timur Tengah bertahan, harga energi dunia menurun, serta produksi sawit di Malaysia dan Indonesia mulai memasuki masa panen raya secara musiman. Para pelaku pasar kini sedang memantau ketat data produksi dari pabrik-pabrik di Semenanjung Malaysia untuk melihat sejauh mana stok akan bertambah.

Analisis Teknikal: Target Harga Sawit Selanjutnya

Bagi kamu yang suka melihat angka secara teknis, ada kabar menarik dari analis Reuters, Wang Tao. Saat ini, minyak sawit sedang menguji level resistance di angka 4.517 ringgit per ton. Jika kekuatan beli terus mendominasi dan berhasil menembus batas tersebut, harga sawit berpeluang besar terbang lebih tinggi menuju 4.566 ringgit per ton.

Situasi ini tentu memberikan angin segar bagi para petani dan pengusaha sawit di tanah air. Meskipun ada ekspektasi kenaikan produksi yang bisa membatasi keuntungan, tren penguatan global minyak nabati masih menjadi penyangga yang cukup kuat. Pastikan kamu tetap memantau berita ekonomi terbaru karena pergerakan harga komoditas ini sangat dinamis dan penuh kejutan! (*)

Bagikan
Artikel Terkait
Grup Djarum lewat IBST susul SUPR ajukan delisting dari bursa! Efek aturan free float 15% makin terasa, Iforte tawarkan tender offer Rp5.400 per saham.
Market

Grup Djarum Heboh! IBST Susul SUPR Pamit dari Bursa, Efek Aturan Baru Free Float 15 Persen?

finnews.id – Kabar mengejutkan kembali mengguncang lantai bursa! Salah satu raksasa menara...

Laba bersih Bank Mandiri (BMRI) melesat 16,6% jadi Rp15,4 Triliun di Kuartal I-2026. Penyaluran kredit tembus Rp1.530 Triliun, lampaui rata-rata industri!
Market

Laba Bank Mandiri (BMRI) Meledak Rp15,4 Triliun! Rekor Kredit Tembus Rp1.530 Triliun, Waktunya Borong Saham?

finnews.id – Kabar gembira datang dari raksasa perbankan tanah air! Di tengah...

Bursa Asia dibuka melesat pagi ini! IHSG berpotensi lanjut menguat ke level 7.600 didukung net buy asing dan sentimen positif FTSE Russell.
Market

Gila! Saham AI Bikin Bursa Asia Pecah Rekor Sepanjang Masa, Tapi IHSG Malah Nyungsep Sendirian

finnews.id – Panggung bursa saham Asia hari ini benar-benar milik teknologi masa...

Harga minyak Brent turun ke USD95,18 karena harapan damai AS-Iran. Namun, blokade Selat Hormuz masih mengancam pasokan energi global.
Market

Harga Minyak Dunia Mendadak Jinak! Sinyal Damai AS-Iran Muncul, Tapi Selat Hormuz Masih Jadi Bom Waktu?

finnews.id – Kabar mengejutkan datang dari pasar energi global. Setelah sempat “mengamuk”...