finnews.id – Kabar gembira buat kamu yang memantau sektor komoditas! Harga minyak sawit mentah (CPO) kembali menunjukkan tajinya di pasar internasional. Tak tanggung-tanggung, harga sawit berhasil mencatatkan penguatan dua hari berturut-turut pada perdagangan Selasa siang. Gejolak harga minyak nabati pesaing di pasar global menjadi bahan bakar utama yang membuat nilai tukar CPO terbang tinggi.
Berdasarkan laporan terbaru dari Bursa Malaysia Derivatives Exchange, kontrak patokan minyak sawit untuk pengiriman Juli melonjak sebesar 20 ringgit atau setara 0,44 persen. Saat ini, harga bertengger di level 4.518 ringgit (USD1.142,06) per metrik ton. Bahkan, pada awal sesi perdagangan, harga sempat meledak hingga 1,04 persen. Fenomena ini tentu membuat para pelaku pasar kegirangan, meskipun mereka tetap harus waspada terhadap beberapa faktor pembatas.
Minyak Kedelai Jadi Biang Kerok Kenaikan Harga Sawit
Mengapa harga sawit bisa mendadak perkasa? Jawabannya ada pada pergerakan minyak nabati global lainnya. Kamu perlu tahu bahwa harga sawit punya “ikatan batin” dengan harga minyak kedelai (soyoil). Saat harga minyak kedelai di Dalian melonjak 0,91 persen dan harga minyak sawitnya di sana melesat 1,66 persen, CPO Malaysia otomatis ikut terseret naik.
Tidak hanya di Asia, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga merangkak naik 0,25 persen. Karena sawit berkompetisi ketat memperebutkan pangsa pasar minyak nabati dunia, pergerakan harga pesaing ini menjadi sinyal kuat bagi para trader. Selisih harga yang masih menguntungkan dibanding minyak nabati lain membuat permintaan terhadap CPO tetap kencang di pasar ekspor.
Waspada! Konflik AS-Iran dan Produksi Musiman Mengintai
Namun, jangan senang dulu. BMI Fitch Group dalam laporan terbarunya tetap mempertahankan proyeksi harga rata-rata tahunan minyak sawit 2026 di angka 4.300 ringgit per ton. Mereka mengingatkan bahwa harga jangka pendek masih sangat bergantung pada tensi geopolitik, terutama perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang bisa memicu fluktuasi harga energi global.
Dalam skenario dasar mereka, harga minyak sawit punya potensi turun menuju 4.200 ringgit per ton sepanjang kuartal kedua 2026. Hal ini bisa terjadi jika gencatan senjata di Timur Tengah bertahan, harga energi dunia menurun, serta produksi sawit di Malaysia dan Indonesia mulai memasuki masa panen raya secara musiman. Para pelaku pasar kini sedang memantau ketat data produksi dari pabrik-pabrik di Semenanjung Malaysia untuk melihat sejauh mana stok akan bertambah.
Analisis Teknikal: Target Harga Sawit Selanjutnya
Bagi kamu yang suka melihat angka secara teknis, ada kabar menarik dari analis Reuters, Wang Tao. Saat ini, minyak sawit sedang menguji level resistance di angka 4.517 ringgit per ton. Jika kekuatan beli terus mendominasi dan berhasil menembus batas tersebut, harga sawit berpeluang besar terbang lebih tinggi menuju 4.566 ringgit per ton.
Situasi ini tentu memberikan angin segar bagi para petani dan pengusaha sawit di tanah air. Meskipun ada ekspektasi kenaikan produksi yang bisa membatasi keuntungan, tren penguatan global minyak nabati masih menjadi penyangga yang cukup kuat. Pastikan kamu tetap memantau berita ekonomi terbaru karena pergerakan harga komoditas ini sangat dinamis dan penuh kejutan! (*)