Dalam skenario dasar mereka, harga minyak sawit punya potensi turun menuju 4.200 ringgit per ton sepanjang kuartal kedua 2026. Hal ini bisa terjadi jika gencatan senjata di Timur Tengah bertahan, harga energi dunia menurun, serta produksi sawit di Malaysia dan Indonesia mulai memasuki masa panen raya secara musiman. Para pelaku pasar kini sedang memantau ketat data produksi dari pabrik-pabrik di Semenanjung Malaysia untuk melihat sejauh mana stok akan bertambah.

Analisis Teknikal: Target Harga Sawit Selanjutnya

Bagi kamu yang suka melihat angka secara teknis, ada kabar menarik dari analis Reuters, Wang Tao. Saat ini, minyak sawit sedang menguji level resistance di angka 4.517 ringgit per ton. Jika kekuatan beli terus mendominasi dan berhasil menembus batas tersebut, harga sawit berpeluang besar terbang lebih tinggi menuju 4.566 ringgit per ton.

Situasi ini tentu memberikan angin segar bagi para petani dan pengusaha sawit di tanah air. Meskipun ada ekspektasi kenaikan produksi yang bisa membatasi keuntungan, tren penguatan global minyak nabati masih menjadi penyangga yang cukup kuat. Pastikan kamu tetap memantau berita ekonomi terbaru karena pergerakan harga komoditas ini sangat dinamis dan penuh kejutan! (*)