finnews.id – Pasar modal Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini terpaksa menyerah pada zona merah sejak pembukaan perdagangan. Sentimen global yang mencekam, terutama drama politik luar negeri antara Amerika Serikat dan Iran, sukses membuat nyali para investor menciut. Jika Anda memiliki portofolio saham, sebaiknya segera cek posisi karena tekanan jual sedang menghantam cukup deras.

Pada perdagangan Selasa pagi, 21 April 2026, IHSG langsung meluncur ke level 7.560. Ini berarti indeks merosot 34 poin dibandingkan penutupan kemarin yang sudah melemah. Bukannya membaik, pergerakan indeks justru semakin tertekan hingga menyentuh level 7.547 atau anjlok 0,62 persen pada pukul 09.05 WIB. Meskipun sempat mencoba bangkit ke titik tertinggi 7.568, kekuatan pasar tetap terseret ke level terendah di 7.518.

Drama Geopolitik AS-Iran: Bom Waktu yang Siap Meledak

Mengapa bursa kita begitu rapuh hari ini? Jawabannya ada pada ketidakpastian diplomasi global. Investor di seluruh dunia sedang menahan napas menunggu berakhirnya masa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan habis esok atau lusa. Ancaman militer yang kembali dilontarkan Presiden Donald Trump seolah menjadi bensin yang menyiram api konflik.

Ketidakpastian ini memicu efek domino yang mengerikan. Indeks Wall Street di Amerika pun kompak tumbang. Kondisi ini diperparah dengan harga minyak mentah dunia yang melesat tajam sebesar 6,87 persen ke level USD89,61 per barel. “Gencatan senjata yang terjadi dua minggu terakhir banyak drama yang terjadi,” ujar Hari Rachmansyah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT). Kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka membuat pelaku pasar lebih memilih mengamankan aset mereka daripada mengambil risiko di pasar saham.

Dana Asing Kabur Rp2,3 Triliun, Investor Domestik Was-was

Tekanan tidak hanya datang dari luar negeri. Di dalam negeri, data menunjukkan para pemodal asing mulai “angkat kaki”. Dalam sepekan terakhir, tercatat aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing mencapai angka fantastis, yakni Rp2,3 triliun. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan pasar sedang goyah.