Home Market Grup Djarum Heboh! IBST Susul SUPR Pamit dari Bursa, Efek Aturan Baru Free Float 15 Persen?
Market

Grup Djarum Heboh! IBST Susul SUPR Pamit dari Bursa, Efek Aturan Baru Free Float 15 Persen?

Bagikan
Grup Djarum lewat IBST susul SUPR ajukan delisting dari bursa! Efek aturan free float 15% makin terasa, Iforte tawarkan tender offer Rp5.400 per saham.
Ilustrasi - Grup Djarum lewat IBST susul SUPR ajukan delisting dari bursa! Efek aturan free float 15% makin terasa, Iforte tawarkan tender offer Rp5.400 per saham.
Bagikan

finnews.id – Kabar mengejutkan kembali mengguncang lantai bursa! Salah satu raksasa menara telekomunikasi dari Grup Djarum, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST), baru saja mengumumkan rencana besar untuk keluar dari pasar modal alias go private. Langkah ini tidak main-main karena akan berlanjut pada penghapusan pencatatan saham secara permanen atau delisting dari papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Keputusan IBST ini seolah menjadi efek domino di industri infrastruktur telekomunikasi. Pasalnya, langkah serupa sudah lebih dulu diambil oleh PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR). Fenomena emiten yang berbondong-bondong “pamit” ini tentu bikin para investor publik ketar-ketir. Apakah ini tanda bahwa bursa kita sudah tidak lagi menarik bagi para pemain besar, atau ada aturan main yang terlalu berat untuk dipenuhi?

Skema Tender Offer: Iforte Siap Borong Saham IBST di Harga Rp5.400

Bagi kamu yang masih memegang saham IBST, jangan panik dulu. PT Iforte Solusi Infotek, sebagai pemegang saham pengendali, sudah menyiapkan skema voluntary tender offer (VTO). Berdasarkan keterbukaan informasi pada Selasa (21/4/2026), Iforte menawarkan harga pelaksanaan tender offer di level Rp5.400 per saham. Angka ini menjadi pintu keluar bagi investor publik sebelum perusahaan resmi berubah status menjadi perusahaan tertutup.

Namun, ingat ya, rencana go private dan delisting ini masih harus menunggu restu dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 5 Juni 2026. Kalau kamu memilih tidak menjual sahammu saat masa penawaran, kamu akan tetap tercatat sebagai pemegang saham, tapi di perusahaan tertutup yang tentu saja sahamnya tidak bisa lagi kamu jual-beli dengan mudah di bursa.

Sulitnya Memenuhi Syarat Free Float: Akar Masalah Gelombang Delisting?

Mengapa perusahaan-perusahaan ini memilih keluar? Ternyata masalah utamanya ada pada aturan “saham publik”. Kalau kita intip data BEI, jumlah pemegang saham publik atau free float IBST saat ini sangatlah kecil, yakni hanya 0,05%. Angka ini sangat jauh di bawah standar minimal lama sebesar 7,5%, apalagi jika dibandingkan dengan aturan baru yang lebih ketat.

Sejak Iforte (anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk atau TOWR) mengambil alih IBST pada Juli 2024, perusahaan sebenarnya sudah mencoba melakukan berbagai aksi korporasi termasuk refloat. Namun, perkembangan pengalihan kembali saham ke publik ini nampaknya menemui jalan buntu. “Mempertimbangkan hal-hal tersebut, termasuk perkembangan refloat, perseroan memutuskan untuk mengajukan rencana go private dan delisting,” tulis manajemen dalam keterangan resminya.

SUPR dan EDGE Juga Ikut Menyerah, Ada Apa?

IBST tidak sendirian dalam drama ini. PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) sudah lebih dulu lempar handuk pada 6 April 2026. Alasan manajemen SUPR sangat jujur: mereka tidak mampu memenuhi ketentuan minimum free float yang dipersyaratkan oleh bursa. Padahal, berbagai upaya sudah ditempuh, tapi porsi publik mereka tetap nyangkut di angka 0,09%.

Tak berhenti di situ, PT Indointernet Tbk (EDGE) pun ikut meramaikan gelombang delisting ini. EDGE menawarkan harga tender offer yang cukup tinggi di level Rp11.500 per saham. Selain masalah likuiditas saham yang rendah di pasar, grup Digital Edge ingin fleksibilitas lebih besar dalam pengambilan keputusan strategis regional tanpa harus terbebani status sebagai perusahaan terbuka.

Reformasi Bursa Saham: Antara Kasta MSCI dan Aturan Free Float 15%

Ramainya fenomena go private belakangan ini ternyata bertepatan dengan kebijakan baru mengenai ambang batas free float sebesar 15%. Kebijakan ini merupakan bagian dari reformasi besar-besaran bursa saham Indonesia demi menjaga posisi dan “kasta” pasar modal kita di indeks global seperti MSCI. Bursa ingin memastikan bahwa emiten yang melantai benar-benar memiliki likuiditas yang sehat bagi investor.

Namun, bagi emiten dengan struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi seperti grup-grup besar, aturan 15% ini menjadi tantangan yang sangat berat. Daripada dipaksa melepas saham ke publik dalam jumlah besar atau terkena sanksi, langkah delisting menjadi opsi yang lebih rasional bagi mereka. Bagi kamu investor ritel, fenomena ini menjadi pengingat penting untuk selalu memperhatikan rasio free float dan likuiditas sebelum memutuskan untuk “nyemplung” ke sebuah saham.

Timeline Penting yang Wajib Kamu Catat:
  • 22 April 2026: RUPSLB PT Indointernet Tbk (EDGE) terkait rencana delisting.
  • 5 Juni 2026: RUPSLB PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) untuk persetujuan go private.
  • Pelaksanaan VTO IBST: Akan dilakukan setelah mendapatkan persetujuan RUPSLB dengan harga penawaran Rp5.400 per saham.

Apakah gelombang delisting ini akan terus berlanjut ke emiten lain? Kita tunggu saja perkembangannya. Yang jelas, bursa saham Indonesia sedang melakukan “cuci gudang” untuk memastikan kualitas pasar yang lebih baik di masa depan. (*)

Bagikan
Artikel Terkait
IHSG hari ini turun 0,46% ke 7.559. Cek daftar saham top gainer SSIA & ESSA, serta aksi asing yang borong SSMS
Market

Rangkuman Perdagangan Hari ini: IHSG Memerah! Sektor Energi Justru Pesta Pora

finnews.id – Pasar modal Indonesia kembali berguncang hebat hari ini! Indeks Harga...

Laba bersih Bank Mandiri (BMRI) melesat 16,6% jadi Rp15,4 Triliun di Kuartal I-2026. Penyaluran kredit tembus Rp1.530 Triliun, lampaui rata-rata industri!
Market

Laba Bank Mandiri (BMRI) Meledak Rp15,4 Triliun! Rekor Kredit Tembus Rp1.530 Triliun, Waktunya Borong Saham?

finnews.id – Kabar gembira datang dari raksasa perbankan tanah air! Di tengah...

Bursa Asia dibuka melesat pagi ini! IHSG berpotensi lanjut menguat ke level 7.600 didukung net buy asing dan sentimen positif FTSE Russell.
Market

Gila! Saham AI Bikin Bursa Asia Pecah Rekor Sepanjang Masa, Tapi IHSG Malah Nyungsep Sendirian

finnews.id – Panggung bursa saham Asia hari ini benar-benar milik teknologi masa...

Harga minyak Brent turun ke USD95,18 karena harapan damai AS-Iran. Namun, blokade Selat Hormuz masih mengancam pasokan energi global.
Market

Harga Minyak Dunia Mendadak Jinak! Sinyal Damai AS-Iran Muncul, Tapi Selat Hormuz Masih Jadi Bom Waktu?

finnews.id – Kabar mengejutkan datang dari pasar energi global. Setelah sempat “mengamuk”...